STS: Scars to Stars

Rubyla
Chapter #26

BAB 26: Scars to Stars

Langkah kakiku terhenti di depan pintu kayu rumah Tante Devi dan Om Arya. Di hari yang sangat melelahkan dan menguras energi ini, hatiku merindukan seseorang yang tinggal di rumah ini.

Aku berdiri mematung untuk beberapa detik, menahan napas seraya meremas tali tas sekolahku. Rasa cemas dan ragu sempat menyelinap di benakku. Bagaimana reaksi Tante Devi saat mendengar aku berbicara nanti? Apakah beliau akan mempercayainya?

TOK! TOK! TOK!

Aku memantapkan hati, menggetok pintu kayu itu tiga kali. Tak perlu waktu lama, engsel pintu berbunyi dan daun pintu terdorong terbuka dari dalam. Tante Devi berdiri di sana, mengenakan daster rumahan dan celemek memasak.

"Dhea? Tumben kamu datang kesini, Nak?" sapanya lembut seraya menyunggingkan senyum hangat.

Aku menatap wajah wanita yang telah merawatku bagaikan ibu kandungku sendiri. Bibirku bergetar pelan. Aku membasahi tenggorokanku yang terasa sedikit kaku, membiarkan pasokan udara mendorong pita suaraku.

"Tante..."

Suara pelan, jernih, dan amat lembut itu lolos sempurna dari bibirku.

Seketika, gerakan Tante Devi membeku total. Senyuman di wajahnya luntur, berganti oleh riak terkejut yang luar biasa raksasa. Kelopak matanya membelalak lebar, dan dalam hitungan detik, kedua kakinya mendadak lemas tak berdaya hingga tubuhnya merosot terduduk di atas lantai pualam.

"D-Dhea... K-kamu...?" bisiknya terbata-bata, air mata deras seketika meluncur membasahi pipinya.

Aku buru-buru ikut duduk di hadapannya, menggenggam kedua telapak tangannya yang gemetar erat-erat. "Iya, Tante... Ini Dhea. Dhea udah bisa bicara lagi..."

"Sayang! Ada apa?! Kenapa berteriak?!"

Om Arya berlari terburu-buru keluar dari arah kamar tidur dengan wajah panik. Namun, langkahnya terhenti kaku begitu melihat istrinya terduduk menangis di lantai seraya merengkuh wajahku.

"Mas... Dhea, Mas... Dhea bisa bicara lagi, Mas!" histeris Tante Devi di sela tangis harunya.

"Ha?! Apa?! Beneran, Dhea?!" Om Arya membelalak tak percaya, ikut melangkah lebar dan berjongkok di samping kami.

"Iya, Om. Dhea bisa bicara lagi," ulangku dengan senyuman tulus.

Pria setengah baya itu mengembuskan helaan napas lega yang teramat panjang, menyapu air mata di sudut matanya seraya memeluk kami berdua erat-erat. Ruang tamu kecil itu seketika dipenuhi oleh kehangatan keluarga yang luar biasa membuncah.

Setelah suasana mereda dan kami duduk melingkar di ruang keluarga dengan secangkir teh hangat, aku mulai memberanikan diri menceritakan seluruh kebenaran yang selama ini kurahasiakan rapat-rapat. Tentang perundungan kejam Cindy cs di sekolah, tentang keputusasaanku saat terkunci di lemari besi, hingga kehadiran anak-anak klub STS dan Johan yang pasang badan menyelamatkan duniaku.

Tante Devi menutup mulutnya histeris, air matanya tak berhenti menetes. "Jadi... jadi berita penangkapan anak-anak pengusaha di TV kemarin itu karena kamu, Nak? Ya Tuhan, Dhea... Kenapa kamu nggak pernah cerita sama Tante dan Om? Pasti menyiksa dan berat banget buat kamu selama ini..."

"Maafkan Om dan Tante yang nggak peka ya, Dhea..." timpal Om Arya dengan raut penyesalan yang amat mendalam.

Aku menggelengkan kepala cepat, memeluk Tante Devi. "Nggak, Tante, Om... Dhea yang minta maaf karena sudah berbohong. Tapi sekarang semuanya sudah selesai. Orang-orang jahat itu sudah ditangkap, dan Dhea punya teman-teman baru yang sangat menyayangi Dhea."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun berlalu, aku merasakan kedamaian mutlak saat memejamkan mata di bawah atap rumah kecilku.

Hari berikutnya di sekolah, atmosfer SMA Megah Bangsa terasa begitu berbeda.

Meski sisa-sisa riuh bisik-bisik murid dan kehadiran beberapa wartawan di luar gerbang masih terasa, koridor sekolah kini terasa jauh lebih tenang dan damai. Tidak ada lagi sosok penguasa yang melangkah angkuh, tidak ada lagi rasa cemas atau ketakutan akan diintimidasi. Seluruh murid bernapas lega—merayakan kebebasan baru di lingkungan mereka.

Sore harinya, aku, Kak Jessie, dan Johan berjalan bersama menelusuri trotoar menuju markas STS. Di persimpangan jalan, kami tak sengaja berpapasan dengan Kak Gavin yang juga baru pulang sekolah.

Lihat selengkapnya