Pagi itu, Galeri Seni Kota diselimuti nuansa megah yang amat kental. Sorot lampu interior temaram dipadu alunan musik latar bernuansa akustik menyambut kedatangan ratusan pengunjung, seniman, dan penikmat seni rupa dari berbagai penjuru daerah.
Aku melangkah menembus ambang pintu aula utama diapit oleh seluruh anggota STS. Kak Jessie, Kak Gavin, Kak Nabila, Kak Rizky, Kak Tasya, dan Johan berjalan di sekelilingku dengan wajah berseri-seri dan mata berbinar antusias.
Langkah kami terhenti di zona pameran utama kategori Mixed Media & Fine Art.
Di sana, di atas dinding pameran utama dengan pencahayaan spotlight kuning keemasan yang menawan, terpajang sebuah kanvas tebal berukuran raksasa. Di sudut bawahnya, terukir plakat akrilik bertuliskan: [Yaya — STS Club].
Anak-anak STS seketika terperangah. Mereka membisu kaku di depan kanvas tersebut, menatap karya yang kutuntaskan dalam sepuluh hari perjuangan itu dengan binar mata yang dipenuhi keharuan mendalam.
Di atas kanvas itu, terlukis paduan sketsa garis presisi dan sapuan cat minyak bernuansa glowing pastel. Karya itu menampilkan tujuh sosok manusia dengan siluet yang amat khas—tujuh jiwa yang sedang berdiri saling merangkul di bawah naungan pohon mahoni tua yang diterpa binar lampu tumblr hangat. Di dalam dada masing-masing siluet, terukir retakan berkilau bagaikan pecahan kristal yang memancarkan pendar cahaya bintang ke arah langit malam yang pekat.
"Gila..." puji Kak Rizky dengan napas tertahan, matanya tak bergeming sedikit pun dari kanvas. "Ini... ini kita kan? Gokil banget detailnya..”
"Bukan cuma itu, bang," sela Kak Gavin dengan suara bass-nya yang teduh. "Lihat retakan bercahaya di dada setiap figur itu..."
Aku melangkah maju satu langkah, menatap jajaran keluarga baruku seraya menguraikan suaraku yang kini terdengar jernih dan hangat.
"Karya ini kuberi judul 'Scars to Stars'," ucapku pelan, memancing tatapan haru dari mereka semua. "Retakan bercahaya di dalam dada itu melambangkan luka masa lalu kita masing-masing. Dulu, aku mengira luka itu adalah cacat yang membuat kita tidak berharga. Namun bersama kalian, aku paham... retakan luka itu adalah celah bagi cahaya ketulusan untuk keluar, mengubah rasa sakit menjadi bintang yang menerangi kegelapan jiwa kita."
Kak Jessie merangkul bahuku erat-erat, meneteskan air mata haru. Kak Nabila mengusap sudut matanya seraya tersenyum lebar, sementara Johan menatapku dengan binar mata yang memancarkan rasa bangga nan mendalam.
Ketegangan mencapai puncaknya saat tiga orang Dewan Juri Senior bertoga dan membawa papan penilai melangkah mendekati area pameranku. Salah satu juri pria berkacamata menatap lukisanku cukup lama, lalu berpaling padaku.
"Karya yang sangat luar biasa, Saudari Yaya," ujar Juri Senior itu tegas. "Komposisi sketsa garismu sangat kuat, dipadu narasi emosi warna yang hidup. Bisa jelaskan makna filosofis utama di balik karya ini untuk publik?"
Aku menarik napas panjang. Di hadapan puluhan pengunjung galeri yang mendadak melingkar, aku berdiri tegak tanpa lagi dipayungi rasa takut. Aku menyuarakan makna lukisan itu dengan bahasa yang amat indah, lugas, dan penuh percaya diri—menunjukkan pada dunia bahwa pita suaraku telah kembali untuk menyuarakan kebenaran dan keindahan. Tepuk tangan riuh pengunjung memecah keheningan galeri usai penjelasanku berakhir.
Puncak acara yang dinanti-nantikan pun tiba. Panggung utama galeri dipadati ratusan hadirin. Pembawa acara melangkah ke tengah panggung membawa amplop emas keputusan final dewan juri.
Jantungku bertalu-talu menghantam dada. Jemari tanganku di bawah meja saling bertaut gemetar. Johan yang duduk di sebelah kiriku menyenggol pelan lenganku, lalu menggenggam jemariku hangat seraya berbisik: "Lo udah jadi pemenang di hati kita semua, Yaya."
"Dan Juara Pertama Kompetisi Seni Rupa & Visual Nasional tahun ini... diraih oleh karya berjudul 'Scars to Stars' karya YAYA dari STS CLUB!"
BAMMM!
Hujan kertas confetti warna-warni meledak membahana di udara panggung!