Suara ketukan sepatu pantofel di lantai marmer putih itu terdengar begitu monoton, seirama dengan detak jantung Naura yang kini berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Bukan karena gugup menyambut malam pertama layaknya pengantin baru pada umumnya—oh, tentu saja tidak. Naura gugup karena ia sedang berhadapan dengan makhluk paling kaku seantero jagat raya: Arkaendra Mahawira. Suami halalnya sejak tiga jam yang lalu.
Laki-laki itu berdiri tegak di hadapan meja makan, mengenakan kemeja abu-abu tua dengan lengan digulung sebatas siku. Wajahnya lurus, tanpa senyum, tanpa ekspresi, mirip patung pameran butik mahal yang mendadak bernyawa.
Tanpa berkata sepatah pun, Arka mendorong sebuah map biru tebal melintasi meja, tepat ke hadapan Naura yang sedang mengunyah keripik singkong.
Naura mengerjap, menelan kunyahannya, lalu mendongak. "Apa nih? Mahar susulan? Sertifikat tanah di Bali?"
Arka mendengus pelan—suara embusan napas yang terdengar sangat sinis di telinga Naura.
"Baca dan pahami," ucap Arka dengan suara bariton yang berat dan dingin, sedingin es batu di kulkas dua pintu. "Itu adalah Kontrak Pernykahan dan Pedoman Hidup Bersama selama satu tahun ke depan. Kita menikah bukan atas dasar cinta, melainkan keterpaksaan situasi. Jadi, selama kita berada di bawah atap yang sama, tolong jaga batasan masing-masing."
Naura membuka map tersebut. Alisnya langsung bertaut, hampir menyatu. Di halaman pertama, tertulis deretan aturan dengan poin-poin bernomor rapi layaknya undang-undang negara: