Hari sudah menjelang sore ketika Arka duduk di ruang kerjanya yang megah di lantai atas gedung perusahaan. Di hadapannya, layar laptop menyala menampilkan grafik laporan keuangan kuartal ini. Namun, konsentrasinya mendadak buyar. Sudah tiga kali dalam satu jam terakhir ia melirik ke arah ponsel pribadinya yang tergeletak diam di atas meja.
Bukan karena ada panggilan penting dari klien, melainkan karena sebuah pikiran mengusiknya: Apa yang sedang dilakukan wanita itu di rumah sendirian?
Biasanya, jam-jam seperti ini dihabiskan Arka dengan fokus penuh tanpa gangguan. Tapi hari ini, bayangan senyum menyebalkan Naura saat mencoret kontrak pernikahan tadi pagi terus berkelebat di kepalanya.
"Arka, fokus," gumamnya pelan, memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
Tiba-tiba, ponselnya berdering nyaring, memecah kesunyian ruangan. Nama asisten pribadinya tertera di layar. Arka langsung mengangkatnya dengan cepat.
"Ada apa, Rama?" tanya Arka dingin.
“Maaf mengganggu, Pak Arka. Ini, saya tadi dihubungi oleh kurir paket bawah. Katanya ada kiriman atas nama Ibu Naura yang dikirim ke alamat rumah Bapak, tapi nomor penerima di paket tidak aktif, jadi kurirnya bingung mau ditaruh di mana karena rumah kosong atau tidak ada yang membukakan gerbang.”