Suami-suami Seribu Dapat Tiga

riwidy
Chapter #7

Bab 7. Suami Pengaturan Pabrik yang Sempurna

Pramita bangkit dari ranjang, menuju meja riasnya. Jemarinya menyentuh pigura foto pernikahannya yang berdiri tegak. Ia menghela napas, merasakan sengatan kecil di hatinya. Bukan sedih, lebih kepada geli melihat betapa naif dirinya waktu itu. 

Dulu, ia melihat Danny sebagai pria yang berbeda dari yang lain. Sekarang, semua itu adalah dosa. 

Sebuah bayangan melintas di benaknya, kenangan dari masa-masa awal mereka berpacaran. 

***

Ia ingat jelas kencan kedua mereka. Sore itu, Pramita sudah rapi dengan blouse putih dan celana kulot favoritnya, menunggu di depan kafe pilihan Danny. Waktu yang dijanjikan sudah lewat 15 menit, dan Danny belum juga muncul. Biasanya, ini akan membuatnya panik atau kesal setengah mati. 

Tepat di menit ke-20, sebuah motor matic butut berhenti di depannya. Danny turun dengan helm full face yang kekecilan, rambutnya yang sudah lepek karena tertekan helm terlihat mencuat di sana-sini. Kemeja birunya sedikit kusut. Ia tersenyum minta maaf, senyumnya begitu tulus hingga Pramita tak mampu marah.

“Maaf, ya, Pram! Tadi di jalan ada bapak-bapak kambingnya lepas, jadi aku bantu nangkapin dulu. Kambingnya lincah banget, lho!” Danny bercerita dengan mata berbinar, seolah baru saja memenangkan olimpiade penangkapan kambing.

Pramita tertawa, tawa renyah yang jarang ia tunjukkan pada pria lain. “Kambing? Ya ampun. Serius?”

“Serius! Kalau nggak percaya, nih, lenganku ada bekas tanduknya.” Danny menyodorkan lengannya yang sedikit tergores.

“Ya ampun, Danny. Kamu itu ada-ada saja. Kenapa harus sampai nolongin nangkep kambing?” Pramita masih tertawa.

Danny mengangkat bahu. “Kasihan. Dia kelihatan panik. Kayak aku kalau kamu marah.” Ia berkedip.

Pramita menahan senyum. "Kamu tuh ya, nggak ada kerjaan lain apa?"

"Ada kok! Nangkepin hatimu," Danny menyahut santai, sambil menarik kursi untuknya. "Lagian, kalau aku panikan kayak cowok lain, kamu pasti ilfil. Kan kamu sukanya cowok santai, yang nggak ribet."

"Siapa bilang aku suka cowok santai?" Pramita menyilangkan tangan, pura-pura sewot. Padahal, ia memang menyukai ketenangan yang Danny bawa. 

Setelah bertahun-tahun dikejar-kejar pria ambisius yang selalu punya rencana hidup lima tahun ke depan, Danny adalah angin segar.

“Oh, ya? Lalu kenapa kemarin kamu bilang, ‘Senang deh punya teman ngobrol kayak kamu, nggak bikin pusing’?” Danny menirukan suara khasnya, sedikit melengking seperti Pramita.

Pramita tertawa lagi. “Enak aja! Aku nggak bilang gitu!”

“Bilang kok. Aku ingat banget. Itu kalimat sakral yang bikin aku berani ngajak kamu kencan,” Danny menyeringai, memesan kopi susu dan roti bakar. Pramita memesan teh hijau dan salad buah.

"Kamu suka salad buah?" tanya Danny, menatap pesanannya. "Bukannya kamu suka yang manis-manis?"

"Aku suka. Tapi harus seimbang," jawab Pramita. "Kayak hidup ini. Manis, asin, pahit, pedas, semuanya harus ada porsinya."

Danny mengangguk. "Betul juga. Makanya aku suka kamu. Kayak salad buah, banyak macemnya, tapi enak."

Pramita tersipu. "Gombal."

"Aku serius! Aku suka kamu karena kamu itu nggak bikin aku tegang. Kamu itu kayak liburan, tapi versi yang bisa aku ajak ngobrol," Danny berkata tulus. 

Lihat selengkapnya