Langit di atas langit desa mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Aroma tanah kering yang tersiram gerimis tipis tadi sore masih tercium samar, bercampur dengan aroma bumbu dapur dari rumah-rumah warga. Di depan Toko Kelontong Pak Warman, Asri sedang sibuk merapikan karung-karung beras dan menutup etalase kaca yang berisi aneka rokok serta permen.
Asri menyeka peluh di keningnya dengan punggung tangannya. Seharian ini toko cukup ramai karena banyak warga yang baru saja menerima uang panen. Meski lelah, senyum tak lepas dari wajah manisnya. Ia tahu sebentar lagi jam kerjanya usai, dan itu berarti seseorang akan datang menjemputnya.
“Sudah mau pulang, Sri?” tanya Pak Warman dari dalam meja kasir, sambil menghitung lembaran uang ribuan.
“Nggih, Pak. Sudah jam setengah enam,” jawab Asri lembut.
“Ya sudah, hati-hati. Itu si Bagas sepertinya sudah menunggu di depan pohon mangga,” sahut Pak Warman sambil terkekeh. Pak Warman sudah menganggap Asri dan Bagas seperti anaknya sendiri. Ia tahu betul bagaimana perjuangan kedua anak muda itu.
Asri menoleh ke arah jalan. Benar saja, di bawah pohon mangga besar, seorang pemuda dengan kaos oblong yang sedikit pudar warnanya tengah berdiri menyandar pada sebuah sepeda ontel tua. Itu Bagas. Pemuda itu sedang mengelap stang sepedanya dengan sepotong kain lusuh, namun wajahnya tampak cerah saat mata mereka bertemu.
Asri berpamitan, lalu melangkah menghampiri Bagas. “Sudah lama, Mas?”
Bagas tersenyum, lesung pipit samar muncul di pipinya yang kecokelatan terpapar matahari. “Baru saja. Tadi habis antar pesanan kayu di dusun sebelah, langsung ke sini. Kamu capek?”
“Sedikit. Tapi lihat Mas Bagas jemput, capeknya hilang,” goda Asri yang membuat rona merah muncul di wajah Bagas.
Bagas menepuk jok belakang sepeda yang sudah diberi bantalan busa tipis agar Asri nyaman duduk di sana. “Ayo naik, Tuan Putri. Kuda besinya sudah siap.”
Asri tertawa kecil lalu naik ke boncengan, memposisikan duduknya menyamping. Begitu Asri sudah siap, Bagas mulai mengayuh pedal sepedanya. Bunyi derit rantai sepeda yang butuh pelumas itu menjadi musik latar perjalanan mereka sore itu.
Rok pastel motif bunga Asri menari mengikuti irama angin. Wajah Asri yang lembut terlihat lebih cantik dibawah matahari sore. Asri menutup matanya merasakan angin lembut menerpa wajah mungilnya.
Perjalanan dari toko ke rumah Asri sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi Bagas selalu mengambil rute memutar melewati pematang sawah agar mereka bisa mengobrol lebih lama.
“Gimana sekolahnya Dito dan Rani, Mas?” tanya Asri sambil berpegangan pada pinggang Bagas.
Bagas menghela napas pendek, namun suaranya tetap terdengar tegar. “Alhamdulillah, Sri. SPP Dito untuk bulan ini sudah lunas. Rani juga baru beli buku gambar baru kemarin. Ibuk juga kondisinya sehat, tadi pagi sempat masak sayur lodeh kesukaanmu, katanya kalau kamu mampir disuruh makan.”
Asri terdiam sejenak. Ia tahu betul betapa berat beban yang dipikul Bagas. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, Bagas adalah satu-satunya tumpuan. Pagi ia bekerja serabutan, siang menjadi kuli panggul atau pengantar kayu, dan sorenya terkadang masih mencari rumput untuk ternak tetangga. Semua ia lakukan demi memastikan dapur Ibunya tetap ngebul dan kedua adiknya tidak putus sekolah.
“Mas tidak merasa capek? Uang hasil kerja Mas selalu habis untuk rumah,” bisik Asri tulus.
Bagas menghentikan kayuhannya sejenak saat jalanan menanjak, otot-otot kakinya menegang. “Capek itu manusiawi, Sri. Tapi kalau melihat Rani bisa berangkat sekolah pakai sepatu yang tidak bolong lagi, rasanya capek Mas hilang semua. Tanggung jawab itu bukan beban kalau kita bawa dengan ikhlas.”