Suami

OvioviO
Chapter #2

Lamaran Datang

Matahari pagi di bulan Juli menyapa desa dengan sinarnya yang masih malu-malu, namun udara dingin sisa semalam perlahan mulai menguap. Asri sudah berdiri di depan pagar bambu rumahnya, mengenakan kemeja katun bermotif bunga kecil yang warnanya sudah agak kusam, namun tetap tampak rapi karena disetrika dengan setrika arang dengan sangat telaten.

Dari kejauhan, bunyi derit rantai sepeda yang khas itu terdengar. Bagas datang dengan senyum yang selalu sama, tulus dan menenangkan. Tanpa banyak bicara, ia memosisikan sepedanya agar Asri mudah naik ke boncengan busa tipis itu.

“Siap, Sri?” tanya Bagas singkat.

“Siap, Mas. Ayo berangkat, nanti Pak Warman sudah buka toko duluan,” jawab Asri semangat.

Perjalanan pagi itu dimulai dengan kayuhan santai. Sepanjang jalan, Asri tidak henti-hentinya bercerita. Ia bercerita tentang Budi yang semalam menangis karena pensilnya patah, tentang Ibu yang mengeluh harga minyak goreng naik di pasar, hingga tentang mimpinya semalam yang terasa sangat aneh.

Bagas mendengarkan dengan seksama. Ia tidak pernah memotong pembicaraan Asri, tidak juga mencoba menggurui. Terkadang, ia hanya memberikan gumaman kecil sebagai tanda bahwa ia menyimak setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu.

“Jadi, Mas... Ibu itu sebenarnya ingin sekali bisa beli daster baru, tapi ya itu tadi, uangnya lebih baik buat beli beras. Aku jadi merasa bersalah karena belum bisa kasih Ibu uang lebih,” ucap Asri dengan nada sedikit lesu.

Bagas terdiam sejenak, membiarkan angin pagi menerpa wajah mereka sebelum ia menyahut, “Jadi maksudmu, kamu merasa tanggung jawabmu sebagai anak terhambat karena kondisi keuangan yang sekarang sedang diprioritaskan untuk perut, begitu ya?”

Asri tertegun sejenak. Ia merasa Bagas baru saja merangkum seluruh kegundahan hatinya dalam satu kalimat tanya yang tepat sasaran. “Iya, Mas. Persis seperti itu. Aku merasa kurang berbakti.”

“Bukannya justru karena kamu memikirkan beras untuk keluarga, itu adalah bentuk bakti yang paling nyata, Sri?” lanjut Bagas pelan. “Daster itu keinginan, tapi kenyang itu kebutuhan. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Asri menghela napas panjang, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Bagas memang punya kemampuan unik, ia tidak memberikan solusi ajaib, tapi ia memberikan validasi yang membuat Asri merasa dimengerti sepenuhnya. Bagas tahu betul bahwa bagi wanita seperti Asri, didengarkan tanpa dihakimi adalah obat yang lebih manjur daripada nasihat yang panjang lebar.

Kepekaan Bagas tidak hanya sebatas telinga yang sabar. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan Asri sendiri sering lupakan.

Saat mereka melewati jalanan yang berlubang dan agak becek akibat sisa hujan semalam, Bagas secara otomatis menurunkan kecepatan dan memiringkan sepedanya sedikit agar cipratan air tidak mengenai ujung kain rok Asri. Ia melakukannya tanpa diminta, bahkan tanpa Asri sadari.

Di tengah perjalanan, Bagas tiba-tiba merogoh saku celananya dan menyerahkan selembar sapu tangan bersih yang harum sabun batangan.

“Buat apa, Mas?” tanya Asri bingung.

“Hidungmu merah, Sri. Debu jalanan pagi ini agak banyak, dan kamu dari tadi bersin-bersin kecil,” jawab Bagas kalem sambil terus mengayuh.

Lihat selengkapnya