Rencana pelarian itu muncul seperti api yang menyambar jerami kering di hati Asri. Ia tidak bisa menunggu sampai besok. Baginya, setiap detik yang berlalu adalah langkah Andre yang semakin dekat untuk merenggut sisa hidupnya.
Malam merayap semakin pekat. Suara jangkrik yang biasanya terdengar seperti musik pengantar tidur, kini terasa seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran. Asri menunggu hingga napas Ibu dan adik-adiknya terdengar teratur dalam lelap. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan dua pasang baju dan sebuah kain panjang ke dalam tas kain kusam.
Ia melangkah tanpa alas kaki, membiarkan dinginnya lantai tanah menyerap keberaniannya yang tersisa. Dengan sangat hati-hati, ia membuka palang pintu belakang yang terbuat dari kayu jati tua. Krieeek. Suara itu terdengar seperti ledakan di telinganya, tapi untungnya, tidak ada yang terbangun.
Asri berlari menembus kegelapan kebun belakang menuju sebuah gubuk tua di pinggir sawah tempat rahasia yang sering ia gunakan untuk bertemu singkat dengan Bagas jika rindu sudah tak tertahankan.
Tak lama kemudian, sosok jangkung muncul dari kegelapan. Bagas datang dengan wajah bingung, napasnya tersengal karena Asri mengirim pesan singkat lewat anak tetangga yang tadi kebetulan lewat di depan rumah Bagas.
“Sri? Ada apa? Kenapa malam-malam begini manggil Mas ke sini? Kamu menangis?” Bagas langsung memegang kedua bahu Asri, merasakan tubuh gadis itu gemetar hebat.
“Mas... kita harus pergi. Sekarang. Kita harus kabur dari desa ini,” ucap Asri terbata-bata di antara isaknya.
Asri menceritakan semuanya. Tentang kepulangan Bapak yang tiba-tiba, tentang ancaman Pak Lurah yang bengis, tentang Andre yang akan menjadikannya istri, dan tentang posisi keluarganya yang dijadikan sandera.
Bagas terdiam. Tangannya yang kasar karena kerja paksa perlahan melemas. Ia seolah kehilangan kekuatan untuk sekadar berdiri tegak. Dunia yang ia bangun dengan kayuhan sepeda ontel dan cucuran keringat setiap hari, runtuh seketika. Pria yang biasanya selalu punya kalimat penenang itu kini hanya bisa menatap kekosongan di hamparan sawah yang gelap.
“Pak Lurah... Andre...” gumam Bagas lirih. “Kenapa harus kamu, Sri? Kenapa mereka tidak mengambil apa pun dariku saja, asal bukan kamu?”
Asri menggenggam erat tangan Bagas. “Mas, ayo pergi ke kota. Kita kerja apa saja di sana. Aku bisa jadi buruh cuci, Mas bisa jadi kuli bangunan. Asalkan kita bersama, Mas. Aku tidak mau jadi tumbal untuk Andre!”
Bagas menatap mata Asri yang sembab. Ada kilat harapan di sana, tapi di dalam kepala Bagas, sebuah gambaran lain muncul. Ia melihat wajah Ibunya yang renta, yang setiap pagi mendoakannya di depan pintu. Ia melihat wajah Dito dan Rani yang masih butuh biaya sekolah dan pelindung di rumah.
“Sri...” suara Bagas bergetar. “Kalau kita pergi... bagaimana dengan Ibuku? Bagaimana dengan sekolah adik-adikku? Siapa yang akan memberi mereka makan besok pagi?”
Asri terpaku. Ia egois, ia tahu itu. Tapi ia juga takut. “Tapi kalau aku tinggal, aku tak akan sanggup, Mas! Aku akan mati pelan-pelan di rumah Pak Lurah!”