Rumah mungil berdinding papan itu biasanya riuh dengan suara tawa Dito dan Rani, atau bunyi denting piring saat Bagas pulang membawa sebungkus gorengan. Namun pagi ini, rumah itu sepi, hanya menyisakan isak tangis yang tertahan dari sudut dipan kayu.
Ibu Bagas, Bu Siti, tidak bisa hanya berdiam diri. Setelah diusir secara halus dari halaman rumah Asri, ia kembali ke rumah dengan langkah yang gemetar. Ia memandangi sudut ruangan tempat Bagas biasanya meletakkan caping dan cangkulnya. Semuanya masih ada di sana, kecuali pemiliknya.
“Ibuk, Mas Bagas benar-benar pergi meninggalkan kita?” tanya Rani, si bungsu, dengan mata yang merah karena terlalu banyak menangis.
“Tidak, Nduk. Masmu tidak mungkin begitu. Masmu itu napas rumah ini,” jawab Bu Siti ketus, seolah meyakinkan dirinya sendiri lebih dari meyakinkan anaknya.
Bu Siti mengambil selendang kusamnya. Ia harus bergerak. Ia tidak bisa mengandalkan polisi desa yang jelas-jelas berada di bawah ketiak Pak Lurah. Ia teringat ucapan salah satu kuli angkut di pasar tadi pagi tentang kejadian di jembatan tua.
Dengan kaki yang sudah tidak lagi muda, Bu Siti berjalan kaki menuju pasar. Ia mencari sosok pria bernama Kang Dadang, teman sesama kuli panggul Bagas yang tadi sempat memberi tahu kabar buruk itu.
“Kang! Kang Dadang!” panggil Bu Siti saat melihat pria itu sedang memikul sekarung jagung.
Kang Dadang menoleh, wajahnya tampak serba salah. Ia meletakkan karungnya dan menarik Bu Siti ke sudut yang agak sepi, jauh dari kerumunan orang pasar.
“Bu Siti... saya mohon, jangan tanya saya lagi di sini. Banyak mata,” bisik Dadang dengan suara rendah, matanya melirik ke kiri dan kanan dengan waspada.
“Tolong, Kang. Kamu bilang tadi ada mobil mencegat Bagas di jembatan. Mobil siapa? Kamu lihat siapa yang turun?” desak Bu Siti sambil memegang lengan baju Dadang.
Dadang menelan ludah. “Gelap, Bu. Tapi lampunya terang sekali, mobil mahal. Saya Cuma lihat dari kejauhan saat mau ambil air di kali. Ada tiga orang berbadan besar turun. Bagas... dia mencoba melawan, tapi mereka terlalu banyak. Setelah itu dia dimasukkan ke mobil dan mereka tancap gas ke arah luar desa.”
“Siapa mereka, Kang? Tolong!”
“Saya tidak tahu! Dan saya tidak mau tahu, Bu! Kalau saya bicara lebih banyak, besok mungkin saya yang hilang,” ucap Dadang ketakutan. Ia segera berbalik dan menghilang di antara kerumunan pasar, meninggalkan Bu Siti yang terpaku lemas.
Harapan yang tersisa kini hanya ada pada jejak fisik. Bu Siti memutuskan berjalan kaki menuju jembatan tua di perbatasan desa. Matahari mulai menyengat, namun ia tidak peduli. Ia menyusuri pinggiran jalan setapak, matanya teliti menatap setiap jengkal tanah, berharap menemukan sesuatu seperti kancing baju, sandal, atau apapun milik anaknya.
Sesampainya di jembatan tua, ia melihat bekas ban mobil yang cukup lebar tercetak di tanah yang agak becek. Ia berlutut di sana, meraba bekas ban itu seolah-olah bisa merasakan kehadiran Bagas.