Pernikahan yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidup seorang wanita, bagi Asri, terasa seperti upacara pemakaman bagi jiwanya sendiri. Halaman rumah Pak Lurah disulap menjadi panggung kemewahan yang kontras dengan kepedihan yang menyayat hati Asri.
Suara gending Jawa bertalu-talu, menyambut para tamu terhormat yang datang dengan pakaian terbaik mereka.
Matahari hari itu bersinar terlalu terik, seolah ingin memamerkan setiap detail kemewahan yang dipaksakan di halaman luas rumah Pak Lurah. Sebuah tenda raksasa berwarna putih dan emas berdiri angkuh, menutupi hampir seluruh area depan rumah. Ratusan kursi besi berbungkus kain putih berjejer rapi, diduduki oleh para tamu undangan yang terdiri dari perangkat desa, pejabat kecamatan, hingga rekan bisnis Pak Lurah dari kota.
Aroma melati yang sangat kuat menyeruak di udara, bercampur dengan bau masakan katering kelas atas yang jarang sekali bisa dinikmati warga desa biasa. Namun bagi Asri, wangi itu terasa seperti bau kemenyan di pemakaman.
Di dalam kamar pengantin, Asri menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai emas. Ia mengenakan kebaya kutubaru berbahan beludru hitam pekat, warna yang dipilihkan langsung oleh Ibu Pak Lurah, bukan olehnya. Payet-payet emas di sepanjang jahitan kebaya itu berkilau menyakitkan setiap kali terkena cahaya, terasa berat dan menjepit dadanya.
Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan cunduk mentul yang bergetar setiap kali kepalanya bergerak. Wajahnya dipoles riasan tebal khas pengantin Jawa, menyembunyikan sembab di matanya dan pucat di bibirnya. Saat perias menyampirkan ronce melati di bahunya, Asri merasa seolah-olah sebuah rantai dingin baru saja melilit lehernya.
“Cantik sekali, Sri. Kamu sekarang jadi nyonya besar,” bisik perias itu tanpa tahu bahwa wanita di depannya sedang menghitung detik menuju kematian jiwanya.
Saat Asri dituntun keluar menuju pelaminan, riuh rendah suara tamu seketika senyap, digantikan oleh decak kagum. Ia berjalan pelan, menunduk, matanya hanya menatap lantai semen yang sudah dilapisi karpet merah tebal. Di ujung karpet itu, Andre sudah menunggu.
Andre tampak sangat berbeda. Ia mengenakan basafi berwarna senada dengan Asri, lengkap dengan keris yang terselip di pinggang belakangnya. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan aura kemenangan yang tak terbantahkan. Ia tidak tersenyum pada tamu, ia hanya menatap Asri, seperti seorang kolektor yang akhirnya mendapatkan barang incarannya.
Di barisan depan, Bapak Asri duduk dengan gelisah, berkali-kali membenarkan letak blangkonnya. Sementara Ibu Asri terus-menerus menyeka sudut mata dengan sapu tangan, tak sanggup menatap mata anaknya yang kosong.
Suasana menjadi sangat hening saat penghulu mulai membuka buku nikah. Andre menjabat tangan Bapak Asri. Tangan yang biasanya memegang cangkul itu kini gemetar hebat saat menggenggam tangan menantu pilihannya.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda Andre bin Suryo kepada anak kandung saya, Asri binti Ahmad, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas tiga puluh gram, dibayar tunai!” suara Bapak bergetar, hampir pecah di ujung kalimat.
“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ASRI BINTI AHMAD DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI!”
Andre mengucapkan kalimat itu dalam satu napas, sangat lantang dan penuh penekanan. Seolah ia ingin seluruh desa mendengar bahwa mulai detik ini, Asri adalah miliknya secara sah di mata hukum dan agama.
“Sah?” tanya penghulu.
“SAH!” sahut para saksi dan tamu undangan serempak.
Suara “Sah” itu menghantam jantung Asri seperti palu godam. Ia memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan setetes air mata jatuh merusak riasan bedak di pipinya. Di saat yang sama, ia merasa tangan Andre meraih jemarinya untuk disalami. Tangan Andre terasa hangat dan kuat, namun bagi Asri, itu adalah cengkeraman predator.
Saat mereka berdiri untuk sesi foto, pandangan Asri menyapu kerumunan tamu yang sibuk mengantre makanan. Di situlah ia melihat sosok yang tidak asing baginya.