Suami

OvioviO
Chapter #6

Foto Lama

Perubahan sikap Andre yang mendadak ini justru menciptakan ketegangan baru. Keheningan seringkali lebih menakutkan daripada teriakan, karena di dalam diam, kita tidak pernah tahu apa yang sedang direncanakan seseorang.

Hari-hari pertama di rumah baru berlalu dengan atmosfer yang sangat aneh. Asri, yang sudah menyiapkan mental untuk menghadapi amukan atau perintah-perintah kasar Andre, justru mendapati dirinya hidup dalam kesunyian yang mencekam. Andre tidak lagi membentak. Ia tidak lagi pamer kekuasaan seperti saat berada di desanya sendiri.

Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di teras belakang, menatap kosong ke arah kebun, atau sekadar membolak-balik koran tanpa benar-benar membacanya. Jika ia butuh sesuatu, ia hanya akan menunjuk atau berdehem pendek.

“Mas, kopinya,” ucap Asri pelan sambil meletakkan cangkir di meja kayu.

Andre hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Tidak ada kata terima kasih, tapi juga tidak ada makian jika rasa kopinya kurang manis. Perlakuan datar ini membuat Asri didera rasa heran yang luar biasa. Apakah ini bagian dari taktiknya? Apakah dia sedang menghukumku dengan pengabaian agar aku merasa tidak berarti? Pikir Asri dalam hati.

Tanpa perlu diminta, Asri mengambil alih seluruh urusan rumah tangga. Dari subuh ia sudah bergelut dengan asap dapur, menyapu lantai keramik yang dingin itu hingga mengkilap, mencuci pakaian Andre dengan tangan hingga buku-buku jarinya memerah, dan memastikan setiap sudut rumah bersih dari debu.

Ia melakukan semua itu bukan karena cinta, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri. Asri berpikir bahwa jika ia menjadi istri yang sempurna dan tidak bercela, Andre tidak akan punya alasan untuk marah dan itu berarti, Andre tidak akan punya alasan untuk menyakiti keluarganya atau Bagas di desa sebelah.

Ia bekerja seperti robot. Gerakannya efisien, matanya selalu menunduk, dan bibirnya terkunci rapat. Ia menjadi budak bagi dirinya sendiri, terpenjara oleh rasa takut yang ia ciptakan sebagai tameng.

Seringkali, saat Asri sedang mengepel lantai atau menyiram bunga di halaman, ia merasa sepasang mata memperhatikannya dari balik jendela. Saat ia menoleh, ia mendapati Andre sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan tatapan penuh nafsu, bukan pula kebencian. Ada sesuatu yang lebih dalam mungkin penyesalan, atau mungkin rasa bosan yang amat sangat.

Di desa ini, tanpa embel-embel “Anak Pak Lurah”, Andre tampak seperti pria yang kehilangan identitasnya. Ia tidak punya kaki tangan untuk diperintah, tidak punya warga untuk ditindas. Ia hanya seorang pria muda di rumah besar dengan istri yang tidak mencintainya.

Suatu sore, saat hujan turun deras membasahi atap seng, Andre tiba-tiba bersuara saat Asri sedang merapikan gorden.

“Sri,” panggilnya rendah.

Asri tersentak, jantungnya berdegup kencang. “Nggih, Mas?”

“Kamu tidak perlu bekerja sekeras itu. Aku tidak akan memukulmu kalau ada debu di meja,” ucap Andre datar, lalu kembali menyesap kopinya yang sudah dingin.

Lihat selengkapnya