Suami

OvioviO
Chapter #7

Malam Sunyi

Aroma teh melati yang diseduh Asri memenuhi ruang tamu, namun uapnya tak mampu menghangatkan suasana yang mendadak beku. Ibu duduk di sofa empuk milik Andre dengan tangan yang terus gemetar. Matanya sembab, menatap Asri dengan tatapan yang sarat akan rasa bersalah.

“Mereka pergi, Sri. Semalam, saat warga sedang terlelap,” bisik Ibu dengan suara serak.

Cangkir di tangan Asri berdenting keras saat diletakkan di atas meja. “Pergi? Ke mana, Bu? Mas Bagas masih luka, dia belum pulih benar!”

“Tidak ada yang tahu,” Ibu menyeka air matanya dengan ujung kebaya. “Rumahnya sudah kosong melompong. Pintu digembok dari luar. Ibu sempat bertanya pada tetangga sebelah, katanya mereka pergi naik truk barang jam dua subuh. Saat ditanya mau pindah ke mana, Bu Siti hanya diam dan menangis. Bagas... dia hanya menunduk, tidak berani menatap siapa pun.”

Asri merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Kepergian Bagas yang tiba-tiba dan tanpa pamit terasa seperti kematian yang tertunda. Tanpa sadar, napas Asri memburu. Amarah yang selama ini ia pendam di bawah topeng “istri penurut” mendadak meledak.

Asri berdiri, kepalanya menoleh patah-patah ke arah pintu ruang kerja. Di sana, Andre berdiri mematung, baru saja keluar untuk menyambut mertuanya.

Asri menatap Andre dengan tatapan yang begitu tajam, seolah ingin menghujamkan ribuan duri ke jantung pria itu. Bibirnya bergetar, namun matanya bicara lebih keras: Kamu. Kamu lagi yang melakukannya.

Andre terdiam. Ia menangkap kilat kebencian yang murni dari mata istrinya. Pria itu tidak mendekat. Ia tetap berdiri di ambang pintu, namun ekspresi wajahnya kali ini bukan ekspresi kemenangan. Tidak ada senyum sinis atau nada mengejek.

Andre hanya bingung melihat ekspresi asri, dia tidak tahu apa maksud dari tatapan tajam itu.

“Andre tidak tahu apa-apa, Sri,” sela Ibu pelan, seolah bisa membaca pikiran anaknya. “Bahkan Pak Lurah pun tadi pagi mengamuk di balai desa karena merasa kehilangan ‘tahanan’ politiknya. Kalau Andre yang menyuruh, tidak mungkin Bapaknya marah-marah sampai membanting kursi di sana.”

Asri tertegun. Jika bukan Andre, dan jika Pak Lurah pun tidak tahu, lalu siapa? Mengapa Bagas pergi dengan cara yang begitu rahasia?

Andre melangkah mendekat, duduk di kursi tunggal yang agak jauh dari Asri. “Aku sudah berhenti mencampuri urusan mereka sejak hari kita menikah, Sri,” ucap Andre rendah, suaranya terdengar tulus namun tetap datar. “Aku tidak punya alasan lagi untuk mengusik mereka. Kamu sudah di sini, kan?”

Kalimat terakhir Andre terdengar seperti pengakuan pahit. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Asri. Dan ia tidak merasa perlu membuang energi untuk menyiksa orang yang sudah kalah.

Malamnya, setelah Ibu pulang, rumah itu kembali sunyi. Namun kali ini, sunyinya berbeda. Ada kegelisahan yang menyatukan Asri dan Andre dalam satu ruangan.

Lihat selengkapnya