Ketegangan yang awalnya mencekik perlahan berubah menjadi rutinitas yang hambar.
Hari-hari di rumah baru itu mengalir seperti air tenang di parit sawah datar, monoton, dan tanpa riak. Asri merasa terjebak dalam sebuah siklus yang mekanis. Setiap pagi, ia bangun dengan perasaan kosong, menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu bangkit hanya karena ia tidak tahu harus melakukan apa lagi selain bergerak.
Namun, ada satu hal yang selalu merusak ekspektasinya tentang sosok “suami anak lurah yang manja”.
Pagi itu, Asri bangun sedikit terlambat. Sinar matahari sudah menerobos celah ventilasi, membentuk garis-garis terang di lantai. Ia terburu-buru keluar kamar, khawatir Andre akan murka karena sarapan belum tersedia. Namun, sesampainya di dapur, langkahnya terhenti.
Di atas meja kayu sederhana itu, sudah tersaji dua piring nasi goreng dengan telur mata sapi yang pinggirannya sedikit gosong, ditemani dua gelas teh hangat yang uapnya masih mengepul. Andre sedang mencuci wajan di bak cuci piring, punggungnya bergerak ritmis, tampak terampil seolah melakukan pekerjaan itu adalah hal biasa.
“Sudah bangun?” tanya Andre tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak mengandung nada sindiran meski Asri bangun kesiangan.
“Nggih, Mas. Maaf, saya telat...” jawab Asri gugup, jemarinya memilin ujung daster.
“Tidak apa-apa. Makanlah selagi hangat. Aku harus segera ke gudang,” sahut Andre pendek. Ia mengelap tangannya dengan serbet, lalu duduk di kursi seberang Asri.
Asri duduk dengan ragu. Di desa mereka, seorang suami, apalagi anak orang terpandang haram hukumnya menyentuh dapur jika ada istri di rumah. Tapi Andre berbeda. Ia tidak pernah menuntut Asri bangun sebelum subuh untuk melayaninya. Ia menyiapkan sarapan sebisanya, seolah-olah ia sudah terbiasa hidup mandiri tanpa pelayan.
Asri menyuapkan nasi goreng itu. Rasanya sedikit terlalu asin, tapi ia menelannya dalam diam. Keanehan sikap Andre ini jauh lebih membingungkan daripada kebengisannya yang dulu.
Setelah Andre berangkat, kesunyian kembali menjajah rumah. Bagi Asri, kebosanan adalah musuh terbesar. Ia mulai mencari-cari pekerjaan. Ia menyapu halaman hingga tiga kali sehari, mengelap kaca jendela sampai bening seperti kristal, bahkan mencabuti rumput liar di sela-sela pagar besi hingga tangannya kotor oleh tanah.
Andre sebenarnya tidak pernah memintanya melakukan semua itu. Pernah suatu sore, Andre pulang dan melihat Asri sedang menyikat lantai teras yang sebenarnya sudah bersih.
“Sri, istirahatlah. Lantai itu sudah mengkilap. Kamu bukan buruh di sini,” ujar Andre sambil lewat.
Asri hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan sikatannya. “Saya bosan, Mas. Kalau tidak kerja, pikiran saya lari ke mana-mana.”
Andre terdiam di ambang pintu. Ia tahu ke mana pikiran Asri lari. Pikiran itu pasti lari ke sebuah gubuk di pinggir sawah, ke sebuah sepeda ontel tua, dan ke seorang pria yang kini hilang ditelan bumi. Andre tidak berkomentar lagi, ia masuk ke kamar dan menutup pintu pelan-pelan.
Sore harinya, saat hujan mulai turun membasahi bumi, mereka duduk di teras depan. Tidak ada percakapan. Hanya suara air yang jatuh dari talang dan aroma tanah yang basah. Andre sibuk dengan buku catatannya, sementara Asri hanya menatap jalanan aspal yang sepi di depan rumah.
Asri memperhatikan tangan Andre. Tangan itu kuat, tapi gerakannya lembut saat membalik halaman buku. Ia mulai bertanya-tanya, apakah Andre juga merasa bosan dengan pernikahan “transaksional” ini? Apakah dia juga merasa hambar menjalani hidup dengan wanita yang raganya ada di depannya, tapi jiwanya tertinggal di desa sebelah?