Perubahan perasaan itu datang seperti gerimis yang perlahan membasahi tanah kering, tidak mengejutkan, namun meresap dalam.
Asri berdiri di ambang pintu, masih memegang handuk kering, menatap punggung Andre yang sedang membersihkan sisa-sisa lumpur di teras belakang. Otot-otot punggung suaminya yang bidang tampak bergerak ritmis di balik kaos oblongnya yang basah dan mencetak bentuk tubuhnya. Ada rasa aman yang mendadak menyusup ke hati Asri, perasaan yang dulu hanya ia rasakan saat berada di boncengan sepeda ontel Bagas.
Namun, ini berbeda. Jika bersama Bagas ia merasa dilindungi oleh kasih sayang, bersama Andre ia merasa dilindungi oleh kekuatan yang kokoh. Rasa benci yang selama ini ia pelihara sebagai benteng pertahanan diri, rasanya runtuh begitu saja bersama tumbangnya pohon nangka sore tadi.
“Mas, sudah. Biar saya yang teruskan menyapu airnya. Mas mandi dulu nanti masuk angin,” ucap Asri. Suaranya tidak lagi dingin atau ketakutan. Ada nada perhatian yang tulus di sana.
Andre menoleh, sedikit terkejut mendengar perubahan nada bicara istrinya. Ia menyeka keringat dan air hujan di keningnya dengan lengan baju. “Tinggal sedikit lagi, Sri. Tanggung.”
“Sudah, Mas. Masuk saja,” desak Asri sambil melangkah mendekat dan mengambil alih sapu lidi dari tangan Andre.
Sentuhan singkat saat jemari mereka bersentuhan di gagang sapu tidak lagi membuat Asri menarik tangannya dengan jijik. Sebaliknya, ada sengatan listrik kecil yang membuatnya berdesir. Andre menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ya sudah. Terima kasih, Sri.”
Setelah keduanya bersih dan berganti pakaian kering, suasana rumah yang biasanya kaku mulai mencair. Malam itu, alih-alih Asri memasak sendirian di dapur sementara Andre membaca koran di depan, sesuatu yang berbeda terjadi.
Andre muncul di dapur saat Asri sedang memotong bawang merah. “Ada yang bisa kubantu? Aku lapar sekali setelah bertarung dengan pohon tadi,” cetus Andre setengah bercanda.
Asri tersenyum tipis, senyum pertama yang ia berikan pada Andre di rumah ini. “Mas bisa kupas bawang putihnya? Saya mau buat oseng kangkung saja yang cepat.”
Mereka berdiri berdampingan di depan meja dapur yang sempit. Suara pisau yang beradu dengan talenan dan aroma bawang yang ditumis menciptakan harmoni domestik yang hangat. Tidak ada pembicaraan berat tentang Pak Lurah atau masa lalu. Mereka hanya bicara tentang cara memotong sayur yang benar atau berapa banyak cabai yang harus dimasukkan.
Hal-hal kecil yang biasanya dikerjakan Asri dalam kebosanan, kini terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama. Andre ternyata sangat cekatan, ia tidak segan mencuci piring kotor atau mengelap meja tanpa diminta.
Saat mereka duduk makan malam, suasana tidak lagi mencekam. Andre bercerita sedikit tentang pekerjaannya di kota, tentang bagaimana ia sedang mencoba mandiri tanpa modal dari ayahnya. Asri mendengarkan dengan saksama, mulai mengenali sosok pria di depannya bukan sebagai “Andre Anak Lurah”, melainkan “Andre sang Suami”.
Namun, di tengah kehangatan itu, bayangan Bagas sempat melintas di benak Asri. Ia merasa ada secuil rasa bersalah yang menusuk hatinya. Apakah aku mengkhianati Mas Bagas jika aku mulai merasa nyaman dengan pria ini? Pikirnya.
Tapi kemudian ia menatap Andre yang sedang lahap memakan masakan buatannya. Ia teringat bagaimana Andre melindunginya tadi sore, bagaimana Andre menghormati ruang pribadinya selama berminggu-minggu, dan bagaimana Andre ternyata menyimpan luka yang sama di bawah bayang-bayang ayahnya.
“Sri,” panggil Andre setelah mereka selesai makan.
“Nggih, Mas?”
“Besok hari Minggu. Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke pasar besar di kota. Katanya ada toko kain yang bagus di sana. Kamu bisa pilih kain untuk buat baju atau gorden baru,” tawar Andre dengan nada ragu, seolah takut ditolak.