Satu tahun telah berlalu, dan rumah di desa tetangga itu kini benar-benar terasa seperti rumah. Hubungan Asri dan Andre menetap dalam sebuah harmoni yang tenang, sebuah persahabatan yang sopan, tanpa gejolak nafsu yang dipaksakan, namun penuh dengan perhatian kecil yang konsisten.
Andre tetap menjadi sosok “suami” yang bangun paling awal untuk beribadah dan menyiapkan sarapan, sementara Asri menjadi nyonya rumah yang cekatan, memastikan setiap sudut kediaman mereka nyaman. Mereka sudah terbiasa dengan ritme masing-masing, seolah-olah kebencian di masa lalu hanyalah mimpi buruk yang mulai memudar.
Siang itu, matahari terasa begitu terik, membakar aspal jalanan hingga tampak bergelombang. Andre pulang lebih awal dari kota dan mendapati Asri sedang menyeka peluh di teras.
“Sri, ayo kita keluar sebentar. Ada warung bakso baru di pinggir jalan raya desa sebelah. Katanya sedang ramai sekali, orang-orang sampai mengantre hanya untuk semangkuk bakso uratnya,” ajak Andre sambil melepaskan helmnya.
Asri mendongak, matanya berbinar kecil. Setahun ini, hiburan utamanya memang hanya pasar kota atau sekadar berkeliling dengan motor Andre. “Bakso yang katanya pakai tetelan melimpah itu ya, Mas?”
“Iya. Namanya ‘Bakso Barokah’. Katanya penjualnya baru pindah sebulan, tapi pelanggannya sudah membludak dari pagi sampai malam.”
Mereka berangkat menggunakan motor kopling Andre. Benar saja, saat sampai di lokasi, deretan motor dan beberapa mobil terparkir semrawut di bahu jalan. Sebuah tenda biru besar didirikan di depan sebuah ruko sederhana untuk menampung peluapan pelanggan.
Aroma kaldu sapi yang gurih, semerbak bawang putih goreng, dan uap panas dari kuali besar menyapa indra penciuman mereka. Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik menciptakan irama kesibukan yang luar biasa.
“Ramai sekali, Mas. Apa kita akan kebagian tempat?” bisik Asri, sedikit sangsi melihat kerumunan orang yang berdiri menunggu meja kosong.
“Tunggu sebentar, aku cari celah,” jawab Andre protektif, tangannya secara alami meraih jemari Asri agar tidak terpisah di tengah desakan orang.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, seorang pelanggan berdiri, dan dengan sigap Andre mengamankan dua kursi kayu di pojok warung yang agak terlindung dari debu jalanan.
“Kamu tunggu di sini, aku yang pesan ke depan supaya kamu tidak perlu berdesakan,” ujar Andre lembut.
Asri mengangguk, memperhatikan Andre yang melangkah menuju meja panjang tempat peracikan bakso. Di sana, kepulan uap putih membubung tinggi dari dandang raksasa, menutupi wajah si penjual yang sedang sibuk memotong-motong tetelan dengan sangat cepat.
Asri memperhatikan dari jauh. Ia mendengar orang-orang di sekitarnya saling berbisik memuji.
“Baksonya kenyal sekali, dagingnya terasa.”