Belum sempat Asri menyeka sisa sesak di dadanya akibat pertemuan dengan Bagas, suara dering telepon yang melengking di sudut ruang tamu memecah keheningan rumah mereka.
Andre mengangkat gagang telepon dengan gerakan yang masih kaku. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa ketegangan dari warung bakso tadi. Namun, begitu suara di seberang sana terdengar, warna di wajah Andre seketika memudar.
“Den... Den Andre...” suara Mbok Minah terdengar parau, pecah oleh isak tangis yang tertahan. Mbok Minah adalah saksi bisu sejarah keluarga mereka, wanita yang mengasuh Andre sejak kecil dan tetap setia mengabdi pada Pak Lurah meski tabiat majikannya itu kasar.
“Ada apa, Mbok? Bicara yang jelas,” suara Andre merendah, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya.
“Bapak, Den... Bapak sudah tidak ada. Serangan jantung mendadak saat sedang rapat di Balai Desa. Bapak... Bapak sudah pulang ke Rahmatullah.”
Gagang telepon itu hampir terlepas dari tangan Andre. Ia mematung. Pria yang selama ini menjadi pusat ketakutannya, pria yang mendidiknya dengan tangan besi, dan pria yang memaksanya menjadi “setan” demi sebuah ambisi, kini telah tiada.
Asri yang berdiri tak jauh dari sana bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu. Ia melihat bahu Andre yang biasanya tegap kini merosot.
“Mas? Ada apa?” tanya Asri lirih.
Andre menatap Asri dengan pandangan kosong. “Bapak meninggal, Sri.”
Asri terdiam. Ada rasa dingin yang menjalar di hatinya. Pak Lurah, pria yang telah menghancurkan mimpinya, yang menjadikannya tumbal bagi keluarganya, dan yang menjadi alasan di balik hilangnya Bagas setahun lalu kini sudah tidak bernapas. Harusnya Asri merasa lega, atau mungkin senang karena bayang-bayang kegelapan itu telah sirna. Namun, yang ia rasakan justru hampa.
Ia melihat Andre duduk di tepi sofa, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tidak ada raungan tangis, hanya napas yang berat dan bahu yang bergetar tipis. Bagi Andre, kematian ayahnya adalah hilangnya satu-satunya jangkar sekaligus rantai yang mengikat hidupnya.
Sore itu juga, mereka harus kembali ke desa asal. Perjalanan yang biasanya terasa mencekam saat membayangkan akan bertemu Pak Lurah, kini terasa sangat sunyi. Andre mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus angin sore yang mulai mendingin.
Sepanjang jalan, pikiran Asri bercabang. Ia teringat Bagas yang tadi siang ia temui, pria yang hidupnya dihancurkan oleh pria yang sekarang terbujur kaku di rumah besar itu. Ia teringat bagaimana Pak Lurah menatapnya dengan rendah di hari pernikahan.
“Mas...” bisik Asri sambil memegang tangan Andre lebih erat, kali ini bukan karena takut, tapi karena ia merasakan kerapuhan suaminya.
Andre tidak menyahut, tapi ia menarik tangannya balik memegang tangan Asri, seolah mencari kekuatan.