Pagi setelah tahlilan hari ketujuh selesai, suasana di rumah besar itu terasa sunyi namun lega. Andre memanggil mertuanya, Pak Ahmad, ke ruang tamu yang luas. Di atas meja jati yang legendaris itu, Andre meletakkan sebuah kunci kuningan besar dan map berisi surat-surat tanah.
“Bapak, Ibu,” ucap Andre dengan suara rendah namun mantap. “Rumah ini terlalu besar untuk saya dan Asri. Terlalu banyak kenangan berat di sini. Saya ingin Bapak dan Ibu pindah ke sini bersama adik-adik.”
Pak Ahmad dan istrinya terperangah. “Tapi Andre... ini rumah Pak Lurah. Ini warisanmu,” bisik Ibu Asri tak percaya.
“Warisan terbaik bagi saya adalah melihat Asri tenang, Bu. Adik-adik butuh meja yang layak untuk belajar, butuh kamar yang tidak bocor saat hujan. Biarlah rumah ini menjadi tempat bagi keluarga Bapak untuk memulai hidup yang lebih baik,” lanjut Andre.
Asri yang berdiri di balik pintu menyeka air matanya. Ia menyadari bahwa dengan memberikan rumah ini, Andre sedang mencoba menghapus kasta yang dulu memisahkan mereka. Andre sedang meruntuhkan tembok kesombongan ayahnya dengan tangannya sendiri.
Keputusan Andre mengejutkan banyak pihak, terutama warga desa yang mengira ia akan segera naik takhta menggantikan ayahnya sebagai penguasa baru. Namun, Andre memilih jalan yang berbeda.
Siang harinya, sebuah mobil bak terbuka memuat barang-barang pribadi Andre. Tidak banyak yang ia bawa dari rumah itu, hanya buku-buku, pakaian, dan beberapa kenangan tentang mendiang ibunya.
Sementara Asri dan Andre menaiki mobil Jeep mereka. Di kursi belakang mobil, duduk seorang wanita tua dengan kebaya kusam namun rapi. Mbok Minah. Matanya berkaca-kaca menatap rumah besar yang sudah ia tinggali puluhan tahun, namun ia merasa lega bisa mengikuti “Den Andre”.
“Mari, Mbok. Di sana rumahnya kecil, tapi udaranya lebih segar,” ajak Asri ramah sambil memegang tangan Mbok Minah yang keriput.
“Nggih, Mbak Asri. Terima kasih sudah mau menampung orang tua seperti saya,” jawab Mbok Minah tulus.
Perjalanan kembali ke desa sebelah terasa sangat berbeda. Jika dulu saat pindah pertama kali Asri merasa seperti tawanan yang dibuang, kini ia merasa seperti pulang ke benteng pertahanannya. Rumah putih dengan pagar besi itu kini bukan lagi penjara, melainkan tempat di mana ia dan Andre benar-benar mulai membangun pondasi dari nol.
Sesampainya di rumah, kehadiran Mbok Minah langsung mengubah suasana. Wanita tua itu dengan cekatan membantu Asri di dapur, menceritakan kisah-kisah masa kecil Andre yang belum pernah Asri dengar.
“Den Andre itu sebenarnya hatinya lembut, Mbak Asri. Tapi sejak kecil dia selalu ditekan sama Bapaknya untuk jadi keras. Dulu kalau dia ketahuan belajar agama diam-diam, Bapaknya marah besar,” cerita Mbok Minah sambil memetik sayur di dapur sore itu.
Asri mendengarkan dengan saksama. Informasi-informasi ini perlahan mengisi kekosongan di hatinya. Ia mulai melihat Andre bukan sebagai musuh, tapi sebagai rekan sesama pejuang yang baru saja merdeka dari penjajahan emosional ayahnya.