Suami

OvioviO
Chapter #13

Syarat Tak Terduga

Bagas menatap Andre dengan tatapan yang sangat dalam. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak, yang tersisa hanyalah harga diri seorang pria yang telah berhasil membangun kembali puing-puing hidupnya.

“Aku memaafkanmu, Ndre. Karena aku tahu bagaimana ‘gila’-nya bapakmu,” ucap Bagas pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara denting sendok. “Tapi aku tidak bisa membiarkan Asri hidup dalam ketidaktahuan. Dia bukan barang yang bisa kamu beli atau miliki hanya karena kamu takut pada bapakmu.”

Andre menunduk, tangannya meremas lututnya sendiri di bawah meja. “Lalu, apa mau mu, Gas?”

“Biarkan dia memilih,” tegas Bagas. “Berikan dia kebebasan yang seharusnya dia miliki sejak awal. Aku beri waktu satu bulan. Selama itu, jangan paksa dia. Jangan intimidasi dia. Jika setelah satu bulan dia memilih untuk tetap bersamamu, aku akan pergi selamanya dan tidak akan pernah mengusik kalian lagi. Tapi, jika dia memilihku... kamu harus melepaskannya.”

Andre terdiam lama. Ia menoleh ke arah Asri yang sejak tadi hanya mematung. Di matanya, ia melihat kebingungan, luka, tapi juga percikan kekaguman yang mulai tumbuh untuknya. Andre menarik napas panjang, lalu mengangguk.

“Setuju. Satu bulan, Sri. Pilihannya ada di tanganmu,” ujar Andre dengan suara bergetar.

Kesepakatan itu diucapkan di sela-sela kepulan uap kuah bakso yang panas, di tengah riuh rendah pelanggan yang tak tahu bahwa di pojok warung itu, sebuah takdir besar sedang dinegosiasikan.

Sepulangnya dari warung bakso, suasana di rumah Andre dan Asri berubah menjadi sangat aneh. Andre benar-benar menepati janjinya. Ia tidak lagi bersikap sebagai “tuan” atau “suami yang memiliki”. Ia bersikap seperti seorang pria yang sedang mencoba memenangkan hati seorang wanita dari nol.

Mbok Minah yang melihat perubahan itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. “Den Andre sekarang kok jadi seperti anak muda yang sedang kasmaran,” godanya suatu sore saat melihat Andre membawakan seikat bunga sedap malam untuk diletakkan di kamar Asri.

Asri merasa dunianya jungkir balik. Di satu sisi, ia melihat Andre yang semakin tulus, semakin taat beribadah, dan sangat menghargai setiap keputusannya. Andre tidak lagi hanya menyiapkan sarapan, tapi ia mulai mengajak Asri berdiskusi tentang rencana masa depan, tentang bisnisnya, dan tentang hal-hal kecil yang membuat Asri merasa dianggap.

Namun, di sisi lain, Bagas tidak tinggal diam. Sesuai perjanjian, Bagas sesekali mengirimkan pesan melalui adiknya yang sering membantu diwarungnya, atau mengirimkan makanan kesukaan Asri melalui orang suruhannya. Bagas adalah masa lalu yang penuh warna, cinta pertama yang menawarkan kebebasan dan gairah yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Setiap kali Asri mencicipi bakso kiriman Bagas, ingatannya lari ke sawah, ke sepeda ontel, dan ke janji-janji masa kecil mereka. Bagas adalah bukti bahwa cinta sejati bisa bertahan meski dihantam badai.

Minggu pertama berlalu dengan kegelisahan. Asri sering melamun di teras, menatap jalanan yang memisahkan dua dunia, dunia kemapanan dan keamanan bersama Andre, atau dunia perjuangan dan cinta lama bersama Bagas.

Lihat selengkapnya