Layar ponsel yang semula redup mendadak menampilkan sebuah rekaman video dengan pencahayaan temaram, khas sebuah kamar hotel mewah yang asing. Suara desis pendingin ruangan di dalam rekaman itu berpadu dengan suara tawa rendah seorang pria yang sangat familier di telinga Ratna. Suara itu adalah suara yang sama yang selalu menyapanya setiap pagi melalui pesan suara, suara yang selalu menenangkannya saat dunia terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Dion.
Pria itu duduk di tepi ranjang dengan kemeja putih yang sudah setengah terbuka kancingnya, menanggalkan kesan rapi yang selalu ia tunjukkan di depan orang tua Ratna. Napas Ratna tercekat di tenggorokan, membuat dadanya terasa sesak seketika. Di dalam video, seorang wanita membelakangi kamera, duduk nyaman di pangkuan Dion sambil mengalungkan kedua lengan di leher pria itu. Rambut panjang wanita itu tergerai bergelombang, menutupi sebagian besar wajahnya dari sudut pengambilan gambar yang diambil secara diam-diam.
Ratna merasakan pasokan udara di dalam kamarnya mendadak hilang, menyisakan rasa hampa yang mencekik. Ia menyaksikan bagaimana jemari Dion menelusuri punggung wanita tersebut dengan keintiman yang amat dalam, sebuah sentuhan posesif yang belum pernah pria itu tunjukkan padanya selama bertahun-tahun mereka menjalin hubungan. Tawa Dion terdengar begitu lepas, begitu bebas tanpa beban, sangat kontras dengan suara lelah yang selalu pria itu perdengarkan di telepon akhir-akhir ini setiap kali beralasan sibuk dengan klien luar kota demi masa depan mereka.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini pasti salah," bisik Ratna pada keheningan kamar yang mendadak terasa asing.