Kotak itu tiba dua puluh tiga menit setelah aku resmi menjadi istri Jayan Reswara.
Aku tahu waktunya karena jam di dinding ruang resepsi berhenti pada pukul sebelas lewat empat belas, sedangkan jam tanganku menunjukkan sebelas lewat tiga puluh tujuh. Sejak bekerja memeriksa klaim kematian, aku punya kebiasaan buruk mencatat hal-hal yang tidak cocok. Jam mati. Tanda tangan terlalu rapi. Orang berduka yang hafal nilai polis, tapi lupa tanggal lahir almarhum.
Jayan menyebut kebiasaan itu penyakit kantor.
Aku menyebutnya alasan aku belum pernah membuat perusahaan membayar orang mati yang salah.
Setidaknya, pagi itu aku masih percaya begitu.
“Bu Maira?”
Seorang pelayan berdiri di dekat meja hadiah dengan kotak hitam di kedua tangan. Usianya mungkin belum dua puluh. Ia tampak tegang, seperti baru sadar pengantin perempuan ternyata bisa menggigit.
“Untuk saya?”
“Katanya harus diberikan langsung.”
“Siapa yang bilang?”
Pelayan itu menoleh ke pintu kaca. Di luar, halaman restoran dipenuhi kursi putih, pita hijau tua, dan keluarga yang masih sibuk berfoto di bawah pohon flamboyan. Tidak ada orang yang tampak sedang menunggu reaksiku.
“Kurirnya sudah pergi.”
“Kau menerima tanda terima?”
Ia menggeleng.
Jayan muncul dari belakangku sambil membawa dua gelas air. Jas abu-abunya sudah terbuka, dasinya mengendur, dan ada bekas lipstik ibuku di pipinya. Ia terlihat seperti pengantin pria yang baru selamat dari dua puluh tujuh sesi foto dan tiga bibi yang ingin tahu kapan kami punya anak.
“Hadiah lagi?” tanyanya.
“Hadiah yang tidak mau dikenal.”
“Cocok sama separuh tamumu.”
“Itu keluargamu juga sekarang.”
Jayan menyerahkan satu gelas kepadaku. “Aku belum menandatangani bagian itu.”
Aku nyaris tertawa, tapi urung.
Pandangannya tertahan di kotak hitam itu sesaat lebih lama.
Cuma sebentar. Orang lain mungkin nggak akan sadar, tapi bahunya sempat menegang sebelum kembali rileks.
“Kau mengenali kotaknya?” tanyaku.
“Tidak.”
Jawabannya datang cepat, tapi bukan tergesa-gesa. Jayan adalah dokter IGD. Ia tahu cara menjaga suaranya tetap datar ketika ruangan sedang runtuh.
Kotak itu berpindah ke tanganku. Ringan, tanpa pita, nama pengirim, ataupun kartu ucapan. Pada tutupnya cuma ada namaku, ditulis dengan tinta putih: MAIRA KALANDRA.
Bukan Maira Reswara.
Aku belum memutuskan apakah itu penting.
Nama itu masih terasa milikku, meski cincin baru melingkar di jariku. Aku belum terbiasa dengan gagasan bahwa satu akad dapat mengubah cara orang memanggilku, apalagi bila seseorang sengaja memilih nama lamaku pada paket semacam ini.
“Taruh saja bersama hadiah lain,” kata Jayan.
“Kau baru saja nyuruh penyelidik klaim mengabaikan paket tanpa pengirim.”
“Aku cuma menyuruh istriku menikmati sisa resepsi.”
“Orangnya sama.”
“Sayangnya, iya.”
Ia tersenyum, tapi wajahnya tetap tegang. Aku menatap kotak itu lagi.
Di belakang kami, pembawa acara memanggil pasangan pengantin untuk pemotongan kue. Para sepupu bersorak seolah kami baru saja menyelesaikan sesuatu yang besar, padahal cuma memotong kue. Dari meja paling ujung, Haris Danendra mengangkat gelas ke arahku. Kepala Divisi Klaim, mentor yang mengajariku membaca kebohongan dari angka, datang terlambat karena rapat dan masih mengenakan setelan kantornya.
Ia menunjuk jam tangan, lalu panggung.
Aku mengangguk.
Kotak itu bisa menunggu lima menit.
Ternyata tidak.
Saat aku hendak meletakkannya di meja, sesuatu bergeser di dalam. Bukan bunyi benda pecah. Lebih mirip lembaran tebal yang meluncur dan membentur sisi karton.
Jayan mendengarnya juga.
Ia menggenggam pergelangan tanganku.
Gerakannya lembut, tetapi terlalu pasti.
“Maira,” katanya, “nanti saja.”