Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #2

BAB 2 Tiga Tanggal Kematian

Aku meninggalkan resepsi pernikahanku sebelum kue dipotong.

Ibu menyebutnya pertanda buruk. Salah satu bibiku menyebutnya kurang ajar. Haris mengatakan ia akan mengurus keluarga, pengelola restoran, serta rekaman kamera. Jayan tidak mengatakan apa-apa sampai pintu mobil tertutup dan suara orang-orang tertinggal di belakang kami.

Aku duduk di kursi penumpang dengan tiga akta kematian di pangkuan.

Jayan menyalakan mesin, lalu mematikannya lagi.

“Kau tidak perlu menyetir,” kataku.

“Aku tidak sedang mabuk.”

“Kau kelihatan habis ketemu hantu.”

“Ada tiga akta kematian di pangkuanmu.”

“Kita baru dua puluh tujuh menit nikah, aku sudah pengin pulang aja.”

Humor kering biasanya membantuku menjaga jarak dari masalah. Kali ini malah terasa hambar.

Jayan memegang kemudi, tetapi tidak menyalakan mesin lagi.

“Aku akan menjelaskan.”

“Bagus. Mulai dari berkas yang memakai namaku.”

Ia menoleh. “Aku tidak tahu kau yang menanganinya.”

Jawabannya sama sekali tidak menyentuh pertanyaanku.

“Kau tahu ada berkasnya?”

“Aku tahu pernah ada klaim.”

“Diajukan atas kematianmu.”

“Diajukan atas nama Jayan Reswara.”

“Nama yang kaupakai saat menikah denganku pagi ini.”

Jayan mengusap wajah. Bekas lipstik Ibu masih ada di pipinya, merah muda dan absurd di tengah percakapan tentang tiga kematian. Aku hampir menyuruhnya membersihkan itu, lalu membenci diriku sendiri karena masih memperhatikan.

“Aku butuh waktu,” katanya.

“Aku juga. Aku cuma akan pakai waktuku buat periksa dokumen.”

“Kita pulang dulu.”

“Kantor.”

“Maira.”

“Akses jarak jauh dibatasi untuk data dasar. Aku perlu jaringan internal untuk membuka riwayat klaim.”

“Sekarang hari Sabtu.”

“Orang mati nggak kenal hari Sabtu.”

“Kau baru menikah.”

“Dengan orang mati, rupanya.”

Ia menutup mata sebentar. Ketika membukanya, nada suaranya turun.

“Jangan masuk ke kantor sendirian.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu siapa yang mengirim kotak itu.”

“Aku bahkan nggak yakin aku kenal orang yang duduk di sebelahku.”

Raut Jayan berubah. Ia mungkin mulai ragu aku masih di pihaknya.

Aku tidak meminta maaf atas kalimat itu.

Pada akhirnya, Jayan menyalakan mesin lagi. Empat puluh menit kemudian, kami sampai di kantor pusat perusahaan asuransi.

Gedung dua belas lantai itu terasa berbeda pada akhir pekan. Sebagian besar jendelanya gelap, sementara bagian dalamnya terlalu bersih dan sunyi.

Petugas keamanan di lobi mengenaliku. Ia melirik gaun krem yang masih kupakai, lalu Jayan, lalu kotak hitam di tanganku.

“Lembur, Bu?”

“Bulan madu,” jawabku.

Ia tertawa kecil, masih ragu apakah aku sedang bercanda.

Jayan tidak ikut naik.

“Aku menunggu di lobi,” katanya.

“Kenapa?”

“Kau punya kartu akses. Aku nggak.”

“Sejak kapan kau peduli aturan?”

“Aku cuma nggak mau kau makin marah sebelum aku sempat menjelaskan.”

Aku memandangnya beberapa detik.

“Jangan pergi.”

Lihat selengkapnya