Aku meninggalkan resepsi pernikahanku sebelum kue dipotong.
Ibu menyebutnya pertanda buruk. Salah satu bibiku menyebutnya kurang ajar. Haris mengatakan ia akan mengurus keluarga, pengelola restoran, serta rekaman kamera. Jayan tidak mengatakan apa-apa sampai pintu mobil tertutup dan suara orang-orang tertinggal di belakang kami.
Aku duduk di kursi penumpang dengan tiga akta kematian di pangkuan.
Jayan menyalakan mesin, lalu mematikannya lagi.
“Kau tidak perlu menyetir,” kataku.
“Aku tidak sedang mabuk.”
“Kau terlihat seperti orang yang baru melihat hantu.”
“Istriku bawa tiga bukti kalau aku sudah mati.”
“Dua puluh tujuh menit menikah dan kau sudah punya alasan untuk tidak pulang bersama. Rekor yang mengesankan.”
Humor kering biasanya membantuku menjaga jarak dari masalah. Kali ini malah terasa hambar.
Jayan memegang kemudi, tetapi tidak menyalakan mesin lagi.
“Aku akan menjelaskan.”
“Bagus. Mulai dari berkas yang memakai namaku.”
Ia menoleh. “Aku tidak tahu kau yang menanganinya.”
Jawabannya sama sekali tidak menyentuh pertanyaanku.
“Kau tahu ada berkasnya?”
“Aku tahu pernah ada klaim.”
“Diajukan atas kematianmu.”
“Diajukan atas nama Jayan Reswara.”
“Nama yang kaupakai saat menikah denganku pagi ini.”
Jayan mengusap wajah. Bekas lipstik Ibu masih ada di pipinya, merah muda dan absurd di tengah percakapan tentang tiga kematian. Aku hampir menyuruhnya membersihkan itu, lalu membenci diriku sendiri karena masih memperhatikan.
“Aku butuh waktu,” katanya.
“Aku juga. Aku cuma akan pakai waktuku buat periksa dokumen.”
“Kita pulang dulu.”
“Kantor.”
“Maira.”
“Akses jarak jauh dibatasi untuk data dasar. Aku perlu jaringan internal untuk membuka riwayat klaim.”
“Sekarang hari Sabtu.”
“Orang mati nggak kenal hari Sabtu.”
“Kau baru menikah.”
“Dengan orang mati, rupanya.”
Ia menutup mata sebentar. Ketika membukanya, nada suaranya turun.
“Jangan masuk ke kantor sendirian.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu siapa yang mengirim kotak itu.”
“Aku juga belum tahu siapa yang duduk di sebelahku.”
Wajah Jayan berubah sedikit. Aku tahu ia mulai ragu aku masih di pihaknya.
Aku tidak meminta maaf atas kalimat itu.
Kami sampai di kantor pusat perusahaan asuransi empat puluh menit kemudian. Gedung dua belas lantai itu tampak berbeda pada akhir pekan: gelap di sebagian besar jendela, terlalu bersih, dan sunyi seperti tempat yang sengaja tidak ingin diketahui orang.
Petugas keamanan di lobi mengenaliku. Ia menatap gaun krem yang masih kupakai, lalu Jayan, lalu kotak hitam di tanganku.
“Lembur, Bu?”
“Bulan madu,” jawabku.
Ia tertawa kecil, masih kelihatan bingung aku serius atau tidak.
Jayan tidak ikut naik.
“Aku menunggu di lobi,” katanya.
“Kenapa?”
“Aksesmu. Aturan kantor.”
“Sejak kapan kau peduli aturan?”
“Sejak aku tahu kau bakal pakai pelanggaran kecil buat menghindari penjelasanku.”
Aku memandangnya beberapa detik.
“Jangan pergi.”
“Aku tidak akan pergi.”