Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #3

BAB 3 Aku Memang Sudah Mati

Jayan menutup layar komputerku sebelum aku sempat memotret hasil pencarian.

Aku langsung menepis tangannya.

“Jangan sentuh apa pun.”

“Keluar dari akunmu.”

“Aku belum selesai.”

“Itu justru masalahnya.”

Aku membuka layar kembali. Tiga catatan kematian masih terpampang di sana. Nama, nomor identitas, dan foto Jayan muncul lagi. Padahal orangnya berdiri di sebelahku.

Jayan mengangkat wajah ke langit-langit.

Aku tahu ada kamera di sudut ruangan. Kamera itu tidak merekam layar komputer, tetapi cukup untuk membuktikan siapa yang berada di meja kerjaku siang ini.

“Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku terus mencari?” tanyaku.

“Orang yang mengirim kotak itu akan tahu kau mengikuti jalur yang mereka siapkan.”

“Mungkin aku memang perlu mengikuti jalurnya.”

“Jangan dulu. Kita belum tahu ini bakal ke mana.”

“Kau tahu.”

Jayan diam.

Aku bangkit dan menutup kotak hitam. Tiga akta kematian kumasukkan kembali, sedangkan salinan formulir klaim tetap berada di tanganku.

“Mulai bicara.”

“Bukan di sini.”

“Di mana lagi? Kita lagi di ruang klaim.”

“Maira.”

“Aku tidak akan pulang bersamamu sebelum mendapat jawaban.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Sesudah mengucapkannya, aku baru teringat bahwa pagi tadi kami seharusnya pulang ke apartemen baru yang disewa bersama. Dua koper sudah dikirim ke sana. Ibu bahkan menyelipkan bunga di kamar tidur tanpa meminta izin.

Sekarang aku bahkan tidak yakin apartemen itu masih bisa kusebut rumah.

Jayan mengeluarkan ponsel. Ia mematikannya, meletakkannya di meja, lalu mengangkat kedua tangan sedikit.

“Aku tidak sedang merekam,” katanya.

“Aku tidak menuduhmu merekam.”

“Kau melihat ponselku tiga kali sejak tadi.”

Aku tidak menyangkal.

Ia menunjuk ruang rapat kecil di ujung divisi. Dindingnya terbuat dari kaca, tetapi pintunya cukup rapat untuk meredam suara.

“Lima belas menit saja. Habis itu kita pergi.”

“Kau tidak berhak menetapkan waktu.”

“Kalau nggak kubatasi, kau bakal buka arsip sampai pagi.”

“Pekerjaanku memang begitu.”

“Dan ada seseorang yang sengaja membuatmu mengikuti jalur ini.”

Aku masuk ke ruang rapat tanpa menjawab.

Lampu menyala setelah sensor menangkap gerakan. Meja panjang memenuhi sebagian besar ruangan. Di dinding tergantung poster perusahaan bertuliskan SETIAP KELUARGA BERHAK MENDAPATKAN KEPASTIAN.

Siang itu, slogan itu malah membuatku kesal.

Jayan duduk di seberangku. Ia melepas jasnya dan menggantungkannya di sandaran kursi. Baju putihnya kusut di bagian bahu. Cincin pernikahan masih terpasang di jarinya.

Perhatianku sempat tertahan pada cincin itu.

“Aku mau nama aslimu,” kataku.

Ia menghela napas pendek. “Jayan Reswara.”

“Yang tercatat sekarang Jayan Reswara.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang bisa kuberikan.”

Aku meletakkan akta pertama di tengah meja. “Lahir di mana?”

“Semarang.”

“Tanggal lahir?”

Ia menyebut tanggal yang sama dengan dokumen pernikahan kami.

“Nama ibu?”

Jayan terdiam.

Aku sudah membaca nama perempuan yang tercatat sebagai ibunya pada berkas pernikahan. Ratih Reswara. Meninggal sebelas tahun lalu. Tidak ada ayah yang dicantumkan.

“Bukankah kau hafal?” tanyaku.

“Aku hafal yang tertulis.”

“Jadi yang tertulis belum tentu benar?”

“Kadang-kadang.”

“Untukmu, seberapa sering?”

Ia menggeser pandangannya ke akta-akta itu. “Lebih sering daripada yang kuinginkan.”

Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Tiga dokumen ini asli?”

Jayan masih belum menjawab.

Aku mendorong akta paling lama ke arahnya. “Serat pengaman sesuai tahun penerbitan. Nomor register ada dalam sistem. Surat keterangan rumah sakit tercatat. Klaim dibayar. Orang yang mengurus pemakaman juga terdaftar.”

Akta kedua kutaruh di sampingnya.

“Yang ini diperiksa perusahaan tempatku bekerja. Laporan kepolisian asli. Surat kremasi asli. Pembayaran sah.”

Akta ketiga menyusul.

“Dan yang terakhir masuk ke sistem dua tahun lalu. Tiga kota berbeda. Tiga penyebab kematian. Jangan bilang dokumennya palsu.”

Lihat selengkapnya