Aku terbangun di sofa dengan gaun pernikahan masih melekat di tubuh.
Matahari belum muncul. Jam di ponsel menunjukkan pukul empat lewat dua belas, dan leherku sakit karena semalam tertidur tanpa bantal. Koper-koper kami berdiri di dekat pintu apartemen. Bunga dari Ibu memenuhi kamar, ruang makan, bahkan meja kecil di samping televisi.
Bau mawar masih memenuhi apartemen. Pikiranku justru sibuk dengan semua pertanyaan yang belum terjawab.
Jayan tidak masuk ke apartemen sepanjang malam.
Aku memeriksa kamera pintu. Pukul satu lewat tujuh belas, ia datang dan berdiri di lorong selama hampir sepuluh menit. Tidak mengetuk. Tidak menelepon. Ia hanya meletakkan sebuah tas kertas di depan pintu, lalu pergi.
Isinya pakaian ganti, sikat gigi, obat sakit kepala, dan kotak makanan yang sudah dingin.
Di bagian paling atas ada catatan pendek.
Jangan datangi alamat mana pun sendirian. Setidaknya bilang kau mau ke mana.
Aku membalik kertas itu.
Kosong.
Ia tidak meminta maaf ataupun memberi penjelasan tambahan. Mungkin Jayan cukup mengenalku untuk tahu bahwa nasihat tanpa alasan hanya terdengar seperti tantangan.
Pukul lima pagi, aku sudah berada di taksi menuju stasiun.
Aku mengirim satu pesan kepadanya setelah kereta mulai bergerak.
Aku pergi ke Semarang.
Balasannya masuk kurang dari sepuluh detik.
Turun di stasiun berikutnya.
Aku mematikan suara ponsel.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Aku tidak tidur. Di meja lipat kecil, kubuka salinan digital akta kematian pertama yang semalam sempat kukirim ke alamat surel pribadi sebelum Jayan menutup layar.
Jayan Reswara dinyatakan meninggal delapan tahun lalu setelah mengalami infeksi pascaoperasi. Tempat meninggal: Rumah Sakit Adinata Semarang. Jenazah dimakamkan di TPU Waringin Sari dua hari kemudian.
Orang yang melaporkan kematian bernama Kirana Apsari.
Hubungan dengan almarhum: istri.
Aku memperbesar bagian itu sampai huruf-hurufnya pecah menjadi kotak kecil.
Jayan tidak pernah menikah sebelumnya. Setidaknya, itu yang ia tulis dalam dokumen pernikahan kami. Statusnya tercatat belum pernah kawin, diverifikasi oleh kantor catatan sipil, dan tidak memiliki riwayat perceraian.
Delapan tahun lalu, seorang perempuan menandatangani pemakamannya sebagai istri.
Ponselku bergetar berkali-kali sepanjang perjalanan.
Tujuh panggilan dari Jayan.
Dua pesan dari Ibu yang menanyakan kenapa aku belum mengunggah foto pernikahan.
Satu pesan dari Haris.
Jangan membuka kasus lama tanpa surat tugas. Kita bicara Senin.
Justru pesan Haris yang paling menggangguku.
Aku belum memberitahunya kasus mana yang kubuka. Memang, sebagai kepala divisi, ia dapat melihat riwayat aksesku. Kalimatnya lebih terasa seperti orang yang ingin memastikan aku tidak membuka sesuatu.
Kereta tiba menjelang pukul sembilan. Langit Semarang cerah, panasnya sudah mulai menempel di kulit meskipun pagi belum terlalu jauh. Aku mengganti gaun pernikahan dengan kemeja dan celana panjang di toilet stasiun. Gaun itu kulipat seadanya, lalu kumasukkan ke koper kecil.
Ada sesuatu yang menyedihkan saat menyimpan pakaian pernikahan di antara wastafel umum dan suara pengering tangan.
Aku memesan kendaraan menuju TPU Waringin Sari.
Pemakaman tersebut berada di pinggiran kota, melewati permukiman padat dan deretan bengkel. Gerbangnya tidak megah. Cat hijau pada papan nama mengelupas, sementara warung kecil di sebelah pintu menjual bunga tabur, air mineral, dan rokok.
Seorang lelaki tua duduk di pos pengelola sambil menyusun formulir. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung.
“Saya mencari makam,” kataku.
“Namanya?”
“Jayan Reswara.”
Pena di tangannya berhenti.
Gerakannya kecil, tetapi aku melihatnya.
“Dimakamkan delapan tahun lalu,” lanjutku. “Bloknya tidak tertulis jelas di salinan dokumen.”
Lelaki itu melepas kacamata. “Keluarga almarhum?”
Aku memikirkan jawabannya.
“Istri.”
Ia melihat tanganku. Cincin pernikahan masih terpasang.
“Istrinya bukannya sudah datang pagi tadi?”
Denyut di leherku terasa lebih keras.
“Jam berapa?”
“Belum lama. Mungkin setengah jam.”
“Siapa namanya?”