Aku masih memegang foto pernikahan Kirana ketika suara Jayan terdengar dari ponsel.
“Maira?”
Tak seorang pun menyahut.
Kirana berdiri di seberang makam. Pandangannya turun ke layar ponselku yang masih memperlihatkan nama Jayan. Ia mengulurkan tangan.
“Boleh aku bicara sebentar?”
“Tidak.”
Jawabanku keluar terlalu cepat. Aku mematikan sambungan, kemudian memasukkan ponsel ke tas.
Kirana tidak memaksa. Ia menutup botol air, menaruhnya di dekat nisan, lalu membersihkan sisa daun kamboja dengan tangan kosong. Gerakannya tenang, seolah ia sudah sering datang ke sini dan terbiasa menemukan sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.
Aku kembali melihat foto itu.
Lelaki di samping Kirana memang mirip Jayan. Bentuk rahang, jarak mata, dan garis hidungnya hampir sama. Hanya ada perbedaan kecil yang baru terlihat setelah kuperhatikan lebih lama. Rambutnya dipotong sangat pendek. Senyumnya lebih terbuka. Ada bekas luka tipis di atas alis kiri.
Jayan yang kukenal tidak memiliki bekas luka di sana.
Mungkin luka itu sudah memudar. Mungkin fotonya dimanipulasi. Mungkin aku memang sedang mencari-cari perbedaannya. Rasanya lebih mudah begitu daripada menerima bahwa suamiku pernah berdiri di pelaminan bersama perempuan lain.
“Di mana foto ini diambil?” tanyaku.
“Di rumah teman.”
“Pernikahan resmi?”
“Resmi.”
“Nomor akta nikahnya?”
Kirana memandangku sebentar. “Kamu kalau bertanya selalu seperti lagi periksa klaim?”
“Ketika seseorang menunjukkan foto pernikahan dengan suamiku, iya.”
Ia membuka tas dan mengeluarkan salinan buku nikah yang dilindungi plastik bening. Tidak tampak baru dicetak. Sudut kertasnya sedikit terlipat, dan warna sampul fotokopinya sudah memudar.
Nama mempelai pria: Jayan Reswara.
Nama mempelai perempuan: Kirana Apsari.
Tanggal pernikahan mereka sembilan tahun lalu.
Aku membaca nama penghulu, nomor pencatatan, alamat, serta dua orang saksi. Sekilas tidak ada yang janggal.
“Boleh kupotret?”
“Boleh.”
“Kenapa Anda membawa ini ke makam?”
“Aku bawa karena tahu kamu bakal datang.”
Aku berhenti mengarahkan kamera.
“Dari mana Anda tahu?”
“Kotak itu sampai kepadamu, bukan?”
Angin bergerak di antara pohon kamboja. Beberapa bunga kering jatuh ke tanah, tetapi Kirana tidak mengalihkan pandangan.
“Anda yang mengirimnya?”
“Bukan.”
“Dan Anda tahu isinya?”
“Aku tahu apa yang mau diperlihatkan.”
“Siapa pengirimnya?”
“Aku tidak tahu namanya.”
“Mudah ngomongnya.”
“Sejak suamiku dikubur, hidupku juga nggak pernah tenang.”
Nada suaranya tetap rendah. Entah kenapa, itu malah membuatku lebih tidak nyaman.
Aku mengembalikan buku nikah, tetapi foto pernikahan masih kupegang.
“Jayan mengatakan Anda bukan istrinya.”
“Apa tepatnya yang dia katakan?”
“Dia bilang dokumen ini benar, tapi Anda bukan istrinya.”
Kirana tertawa kecil. Tidak ada kegembiraan di sana.
“Masih seperti dulu,” ujarnya.
“Seperti dulu?”
“Sangat hati-hati memilih kata. Dia bisa membuat kebohongan terdengar seperti kebenaran yang belum selesai.”
“Berarti Anda mengenal lelaki yang menikah dengan saya.”
“Aku mengenal wajahnya.”
“Wajahnya atau orangnya?”
Keraguan singkat melintas di wajah Kirana.
Hanya sebentar. Ia kemudian mengambil foto dari tanganku dan memasukkannya kembali ke amplop.
“Berapa lama kau mengenalnya?”
“Hampir tiga tahun.”
“Dia masih bekerja di IGD?”
“Ya.”
“Masih tidak suka makanan terlalu manis?”
Aku membiarkannya melanjutkan.
“Kalau gugup, dia menggosok bagian dalam ibu jarinya dengan telunjuk?” lanjut Kirana. “Kalau marah, suaranya justru makin pelan? Kalau sedang berbohong, dia akan memberimu jawaban yang benar untuk pertanyaan yang sedikit berbeda?”
Tenggorokanku terasa kering.
Semua itu cocok dengan Jayan.