Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #5

BAB 5 Perempuan yang Pernah Menjadi Istrinya

Aku masih memegang foto pernikahan Kirana ketika suara Jayan terdengar dari ponsel.

“Maira?”

Tak seorang pun menyahut.

Kirana berdiri di seberang makam. Pandangannya turun ke layar ponselku yang masih memperlihatkan nama Jayan. Ia mengulurkan tangan.

“Boleh aku bicara dengannya sebentar?”

“Tidak.”

Jawabanku keluar terlalu cepat. Aku mematikan sambungan, kemudian memasukkan ponsel ke tas.

Kirana tidak memaksa. Ia menutup botol air, menaruhnya di dekat nisan, lalu membersihkan sisa daun kamboja dengan tangan kosong. Gerakannya tenang, seolah ia sudah sering datang ke sini dan terbiasa menemukan sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.

Aku memeriksa foto itu lagi.

Lelaki di samping Kirana memang mirip Jayan. Bentuk rahang, jarak mata, dan garis hidungnya hampir sama. Ada sedikit perbedaan yang baru kusadari setelah memperhatikannya lebih lama. Rambutnya dipotong sangat pendek. Senyumnya lebih terbuka. Ada bekas luka tipis di atas alis kiri.

Jayan yang kukenal tidak memiliki bekas luka di sana.

Mungkin luka itu sudah memudar. Mungkin fotonya dimanipulasi. Mungkin aku memang sedang mencari-cari perbedaannya. Rasanya lebih mudah begitu daripada menerima bahwa suamiku pernah berdiri di pelaminan bersama perempuan lain.

“Di mana foto ini diambil?” tanyaku.

“Di rumah teman.”

“Pernikahan resmi?”

“Resmi.”

“Nomor akta nikahnya?”

Kirana memandangku sebentar. “Kamu kalau bertanya selalu seperti lagi periksa klaim?”

“Maaf, kebiasaan kerja.”

Ia membuka tas dan mengeluarkan salinan buku nikah yang dilindungi plastik bening. Kertasnya tidak tampak baru dicetak. Sudutnya sedikit terlipat, dan sampul fotokopinya sudah memudar.

Nama mempelai pria: Jayan Reswara.

Nama mempelai perempuan: Kirana Apsari.

Tanggal pernikahan mereka sembilan tahun lalu.

Aku membaca nama penghulu, nomor pencatatan, alamat, serta nama dua orang saksi. Sekilas tidak ada yang janggal.

“Boleh kupotret?”

“Boleh.”

“Kenapa Anda membawa ini ke makam?”

“Aku bawa karena tahu kamu bakal datang.”

Aku berhenti mengarahkan kamera.

“Dari mana Anda tahu?”

“Kotak itu sampai kepadamu, bukan?”

Angin bergerak di antara pohon kamboja. Beberapa bunga kering jatuh ke tanah, tetapi Kirana tidak mengalihkan perhatiannya.

“Anda yang mengirimnya?”

“Bukan.”

“Dan Anda tahu isinya?”

“Aku tahu apa yang ingin ditunjukkan lewat kotak itu.”

“Siapa pengirimnya?”

“Aku tidak tahu namanya.”

“Gampang sekali Anda bilang begitu.”

“Sejak suamiku dikubur, hidupku nggak pernah tenang.”

Nada suaranya tetap rendah. Entah kenapa, itu malah membuatku lebih tidak nyaman.

Aku mengembalikan buku nikah, tetapi foto pernikahan masih kupegang.

“Jayan mengatakan Anda bukan istrinya.”

“Apa tepatnya yang dia katakan?”

“Dia bilang Anda bukan istrinya. Tapi dia tidak menjelaskan kenapa nama Anda tercatat di dokumen.”

Kirana tertawa kecil. Tidak ada kegembiraan di sana.

“Dari dulu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Dia suka memutar jawaban. Kadang aku sendiri bingung, dia bohong atau tidak.”

“Berarti Anda kenal lelaki yang menikah dengan saya.”

“Aku mengenal wajahnya.”

“Cuma tahu wajahnya?”

Kirana sempat ragu. Ia kemudian mengambil foto dari tanganku dan memasukkannya kembali ke amplop.

“Berapa lama kau kenal Jayan yang sekarang?” tanyaku.

“Hampir tiga tahun.”

“Dia masih bekerja di IGD?”

“Ya.”

“Masih nggak suka makanan yang terlalu manis?”

Aku membiarkannya melanjutkan.

“Kalau gugup, dia suka menggosok bagian dalam ibu jarinya pakai telunjuk? Kalau marah, suaranya malah pelan. Terus kalau bohong, kadang dia menjawab pertanyaan lain seolah menjawab pertanyaanmu.”

Tenggorokanku terasa kering.

Lihat selengkapnya