Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #6

BAB 6 Tanda Tanganku pada Kematian Kedua

Aku pulang ke Jakarta membawa salinan klaim yang seharusnya tidak dimiliki Kirana.

Ia tidak ikut ke stasiun. Setelah menyerahkan map cokelat, ia pergi dengan alasan ada orang yang memperhatikan kami. Aku sempat bertanya siapa.

Kirana menjawab, “Kalau aku tahu siapa dia, aku pasti sudah bilang.”

Aku nggak tahu itu jawaban atau cara dia menyuruhku berhenti bertanya.

Sepanjang perjalanan, map tersebut berada di pangkuanku.

Berkas kematian kedua terdiri dari tiga puluh dua halaman. Dalam sistem kantor, aku hanya melihat sebelas. Sisanya tidak tercatat sebagai lampiran yang pernah ada.

Aku membaca semuanya dari awal.

Kecelakaan terjadi pukul dua lewat empat puluh dini hari. Mobil ditemukan di dasar jurang dalam keadaan terbakar. Seorang saksi melihat kendaraan keluar jalur. Saksi kedua mendengar ledakan. Identitas korban ditentukan melalui dompet, kartu pegawai, cincin, dan pengakuan seorang perempuan bernama Darmiati Sulasih.

Pemeriksaan gigi tidak pernah dilakukan.

DNA pun tak pernah dicocokkan.

Sidik jarinya juga tidak diambil.

Dalam laporan kepolisian tertulis bahwa keadaan tubuh tidak memungkinkan identifikasi biometrik. Keluarga meminta kremasi cepat karena alasan keagamaan dan kondisi jenazah.

Aku langsung mengenali gaya bahasanya.

Itu memang tulisanku.

Berdasarkan konsistensi identitas, keterangan saksi, dokumen kepolisian, dan tidak ditemukannya indikasi keuntungan tidak wajar, klaim disarankan untuk dibayarkan.

Lima tahun lalu, kalimat tersebut terasa profesional.

Sekarang rasanya ingin kusobek saja.

Aku pernah mempercayai empat hal sebagai bukti: dompet, kartu pegawai, cincin, dan kesaksian orang lain. Semuanya bisa saja mengarah pada orang yang salah.

Kereta berguncang ringan. Tanda tanganku masih ada di sana.

Ponselku berbunyi.

Jayan sudah menelepon sebelas kali sejak aku meninggalkan makam. Pada panggilan kedua belas, aku mengangkat.

“Di mana kau?” tanyanya.

“Kereta.”

“Dengan Kirana?”

“Sendirian.”

Di seberang, napas Jayan terdengar sedikit lebih lega.

“Kapan sampai?”

“Kenapa?”

“Aku menjemput.”

“Tidak perlu.”

“Maira, kita nggak bisa terus begini...”

“Apa arti huruf K.A.?”

Jayan terdiam.

Aku memandang pantulan wajahku di jendela. Matahari sore membuat pemandangan di luar berubah menjadi garis-garis terang yang berlari mundur.

“Ada cincin,” lanjutku. “Kirana mengambilnya dari jenazah suaminya. Aku pernah melihat cincin yang sama padamu.”

“Kau menyentuh cincin itu?”

“Kenapa kamu malah tanya itu?”

“Kirana memberikannya kepadamu?”

“Tidak.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Jangan bawa apa pun dari dia.”

“Cincinnya beracun?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Jayan menarik napas. “K.A. bukan inisial Kirana.”

“Aku sudah tahu.”

“Kau tidak tahu apa-apa tentang cincin itu.”

“Karena kau tidak pernah menjelaskannya.”

“Aku pernah bilang itu milik seorang teman.”

“Kau bilang milikmu.”

“Aku bilang benda itu pernah kubawa.”

Aku memejamkan mata sejenak. “Kamu ngelakuin itu lagi.”

“Apa?”

“Kamu jawab pertanyaanku, tapi bukan itu yang kutanya.”

Tidak ada bantahan.

Aku membuka halaman terakhir berkas klaim. “Siapa Darmiati Sulasih?”

“Jangan mencarinya.”

“Artinya kau tahu.”

“Dia sudah tidak berada di alamat lama.”

“Masih hidup?”

“Aku tidak tahu.”

“Dia mengidentifikasi jenazah sebagai dirimu.”

“Sebagai Jayan Reswara.”

“Jangan terus berlindung di situ.”

“Aku tidak berlindung.”

“Lalu beri tahu siapa yang mati.”

Keheningan memenuhi sambungan. Aku bisa mendengar suara kendaraan di tempat Jayan berada.

“Belum,” katanya akhirnya.

Aku tertawa tanpa suara. “Kita baru nikah sehari. Tiap kamu bilang ‘belum’, aku rasanya pengin marah.”

“Aku sedang berusaha melindungimu.”

Lihat selengkapnya