Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #7

BAB 7 Tiga Wajah dalam Satu Rekaman

Aku memutar rekaman itu enam kali sebelum menghubungi Jayan.

Pada putaran pertama, aku cuma melihat tiga lelaki dengan wajah yang sama.

Pada putaran kedua, aku mulai mencari perbedaan.

Lelaki yang turun dari mobil mengenakan jaket gelap. Rambutnya sedikit lebih panjang daripada Jayan sekarang. Ia berjalan cepat, tetapi bahu kirinya turun setiap kali melangkah.

Lelaki kedua datang dari sisi parkiran dengan kemeja terang dan tas selempang. Ada bekas luka di atas alis kirinya. Itu lelaki dalam foto pernikahan Kirana.

Lelaki ketiga keluar dari pintu klinik. Tubuhnya lebih kurus. Ia sempat menoleh ke arah kamera, cukup lama untuk memperlihatkan wajah yang nyaris tidak bisa dibedakan dari dua orang lainnya.

Tidak ada potongan gambar.

Tidak ada lompatan waktu.

Ketiganya berada dalam satu bingkai selama sebelas detik.

Aku memperbesar wajah mereka sampai gambarnya pecah, lalu membuka informasi berkas. Rekaman disalin lima tahun lalu, malam sebelum mobil atas nama Jayan Reswara ditemukan terbakar di dasar jurang.

Nama klinik hanya terlihat sebagian pada papan di belakang mobil.

KLINIK NAWA—

Aku mencarinya melalui arsip daring. Ada dua klinik lama dengan awalan nama serupa. Salah satunya tutup empat tahun lalu setelah pemiliknya meninggal. Yang satu lagi berubah menjadi rumah kos.

Aku menyimpan salinan rekaman ke dua perangkat berbeda, lalu mengirim satu lagi ke alamat surel baru yang tidak pernah kupakai untuk pekerjaan.

Setelah itu, baru aku menelepon Jayan.

Ia mengangkat pada dering pertama.

“Kau di apartemen?”

“Datang ke sini.”

“Maira”

“Sendirian.”

“Apa yang kau temukan?”

“Datang dan lihat sendiri.”

Ia tiba tiga puluh lima menit kemudian.

Aku membuka pintu hanya setelah memastikan lorong kosong melalui kamera. Jayan berdiri dengan pakaian yang sama seperti sore tadi. Ia belum mengganti kemeja. Rambutnya basah oleh keringat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya.

Tatapannya langsung jatuh pada laptop di meja.

“Kirana memberikan sesuatu?”

“Masuk.”

Aku mengunci pintu setelah ia lewat.

Jayan berhenti di ruang tengah. Bunga-bunga pernikahan masih memenuhi apartemen. Sebagian mulai layu karena pendingin ruangan kumatikan sejak pagi. Di antara buket putih dan pita emas, kami terlihat seperti pasangan yang salah masuk ke rumah orang lain.

“Kau sudah makan?” tanyanya.

“Jangan alihin pembicaraan.”

“Itu persis cara mengalihkan pembicaraan.”

“Aku melihat kotak makanan semalam masih utuh.”

“Aku menemukan tiga lelaki memakai wajahmu. Nafsu makanku kalah.”

Jayan tidak membalas. Ia duduk setelah aku menunjuk kursi di depan laptop.

Aku menekan tombol putar.

Mobil masuk.

Lelaki pertama turun.

Tiga menit berlalu.

Lelaki kedua datang dari sisi parkiran.

Pintu klinik terbuka dan lelaki ketiga muncul.

Jayan tidak bergerak saat ketiganya berdiri dalam satu gambar.

Tidak ada keterkejutan.

Ia sudah pernah melihat rekaman ini.

Aku menghentikannya.

“Mana dirimu?”

“Maira.”

“Tunjuk.”

“Kau tidak tahu apakah rekaman itu asli.”

“Aku memeriksa metadata, pola bayangan, perubahan cahaya, dan urutan bingkai. Tidak ada tanda penyuntingan.”

“Bisa saja disalin dari sumber yang sudah diubah.”

“Bisa. Tapi kau tidak tampak seperti orang yang sedang melihat rekayasa.”

Ia menatap layar lagi.

Aku memutar beberapa detik sebelum ketiga lelaki bertemu.

“Yang memakai jaket gelap berjalan seperti kau.”

“Banyak orang berjalan seperti aku.”

“Bahu kiri turun. Kau pernah mengalami dislokasi waktu kuliah.”

“Aku memberitahumu itu?”

“Kau menyalahkan olahraga kampus.”

Jayan menggosok bagian dalam ibu jarinya dengan telunjuk.

Gerakan yang disebutkan Kirana.

Aku memperhatikan tangannya sampai ia berhenti.

“Lelaki berjaket itu kau,” kataku.

Ia tidak membenarkan, tetapi juga tak menyangkal.

Aku menunjuk sosok kedua.

“Yang ini suami Kirana. Ada bekas luka di atas alisnya.”

“Foto tidak cukup untuk memastikan.”

“Kirana melihat jenazahnya.”

“Sebagian wajahnya.”

“Jadi kau juga tahu bagaimana jenazah itu diperlihatkan kepada Kirana?”

Jayan bersandar.

“Aku pernah membaca laporannya.”

“Di mana?”

“Aku nggak bisa—”

“Jangan ngomong begitu lagi.”

“Aku nggak punya cara lain yang aman.”

“Aman buat siapa?”

Ia menatapku.

“Untukmu.”

Aku nyaris tertawa, tetapi terlalu lelah.

“Setiap orang yang berbohong kepadaku mengaku sedang melindungiku. Kalian cari alasan lain.”

Jayan menunduk sebentar.

“Rekaman itu asli.”

Aku sudah tahu, tetapi mendengar pengakuannya tetap membuat perutku menegang.

“Ketiganya benar-benar berada di klinik?”

Lihat selengkapnya