Jayan berjanji kembali dalam satu jam.
Tiga puluh delapan menit setelah Jayan pergi, titik biru di peta berhenti bergerak di gedung parkir lama, dua blok dari bekas rumah sakit swasta yang tutup karena sengketa kepemilikan. Aku menunggu lima menit sebelum menelepon.
Tidak diangkat.
Aku menelepon lagi.
Ponselnya masih aktif, tetapi hanya berdering sampai panggilan terputus.
Pesan terakhirku sudah terkirim, tetapi belum dibaca.
Aku mengambil kunci mobil.
Di dalam lift, aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin sinyal ponsel Jayan buruk di gedung parkir. Ponselnya juga bisa saja tertinggal di mobil. Atau dia sedang bicara dengan Darmiati dan sengaja tidak mengangkat.
Semua itu mungkin.
Setelah dua hari terakhir, susah rasanya mempercayai alasan-alasan itu.
Dua puluh menit kemudian, aku sampai.
Gedung parkir itu berdiri di belakang deretan ruko kosong. Separuh lampunya mati. Cat petunjuk lantai sudah pudar, dan gerbang otomatis dibiarkan terbuka tanpa penjaga.
Titik lokasi Jayan berada di lantai empat.
Aku naik melalui jalur kendaraan karena lift tidak berfungsi. Ban mobilku berbunyi setiap melewati sambungan beton. Tidak ada kendaraan lain yang turun dari lantai atas.
Di sudut lantai dua terpasang kamera pengawas. Lampu merahnya menyala.
Lantai tiga kosong.
Di tikungan menuju lantai empat, sedan Jayan terparkir miring dekat pagar pembatas.
Lampu depannya mati.
Pintu pengemudi terbuka.
Aku menghentikan mobil sekitar sepuluh meter darinya dan tidak langsung keluar.
“Jayan?”
Suaraku memantul di antara tiang beton.
Tak ada yang menyahut.
Aku mengambil semprotan merica dari laci mobil. Ibu membelikannya setahun lalu setelah membaca berita pencurian. Setelah itu, ia memaksaku menyimpannya, meski aku sempat bilang aku sendiri bisa kena semprot.
Syukurlah Ibu memaksaku menyimpannya.
Aku mendekati sedan Jayan dari belakang.
Kursi pengemudi kosong.
Ponselnya tergeletak di lantai, layarnya retak. Di sebelahnya ada satu sepatu yang kukenal sebagai sepatu yang dipakainya tadi.
Lalu aku menemukan darah.
Darah ada di sisi kursi pengemudi, gagang pintu, dan konsol tengah. Di dekatnya ada jejak telapak tangan berdarah menuju pintu penumpang.
Aku baru sadar napasku tertahan.
“Jayan!”
Aku memeriksa kursi belakang.
Kosong.
Bagasi masih tertutup. Aku tidak menyentuhnya.
Tanganku gemetar ketika menelepon nomor darurat. Aku menyebut lokasi, kendaraan, dan darah yang terlihat. Petugas meminta aku menjauh dari mobil.
Aku mundur ke dekat tiang.
Ponselku berbunyi sebelum panggilan selesai.
Haris.
Aku menolak panggilannya.
Ia menelepon kembali.
Aku kembali menolak.
Baru pada panggilan ketiga aku mengangkat.
“Apa?”
“Kau di mana sekarang?”
“Kenapa?”
“Jayan menghubungiku.”
Aku kembali memandang sedan itu. Pintu pengemudi masih terbuka.
“Kapan?”
“Sekitar setengah jam lalu. Dia tanya soal arsip klaim kedua.”