Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #9

BAB 9 Kamar yang Tidak Ada dalam Denah

Polisi meminta aku mengirim foto Jayan.

Aku tidak mau.

“Ini bagian dari penyelidikan orang hilang,” kata Satria.

“Foto itu dikirim oleh penculik.”

“Itu sebabnya kami membutuhkannya.”

“Begitu masuk laporan, orang lain bisa lihat?”

“Tidak sembarang orang.”

Jawaban itu tidak cukup meyakinkan, tetapi aku tetap meneruskan foto tersebut ke nomor resmi yang ia berikan. Sebelum mengirim, aku membuat dua salinan dan menyimpan satu di ruang penyimpanan daring yang tidak terhubung dengan surel kerjaku.

Satria memperhatikan caraku memeriksa nomor tujuan tiga kali.

“Ibu sering menangani kasus seperti ini?”

“Saya menangani orang mati.”

“Bedanya?”

“Orang mati biasanya tidak mengirim foto.”

Ia mengangguk, meski wajahnya jelas menolak menganggap kalimat itu masuk akal.

Hasil pemeriksaan awal darah di mobil belum bisa memastikan darah itu milik berapa orang. Petugas hanya mengatakan bercaknya berasal dari manusia dan tampak belum lama mengering. Sampel akan dibawa ke laboratorium untuk dibandingkan dengan benda pribadi Jayan.

“Ada sikat gigi atau alat cukurnya?” tanya Satria.

“Di apartemen.”

“Kami perlu mengambilnya.”

Aku ingin menolak. Benda-benda itu termasuk sedikit hal biasa yang masih tersisa dari Jayan. Aku tahu sentimentalitas tidak membantu pemeriksaan DNA.

“Besok pagi,” jawabku.

“Malam ini lebih baik.”

“Saya pulang sekarang.”

Satria meminta seorang petugas mengantarku. Aku menolak mobil polisi, tetapi menerima ketika ia mengirim dua orang untuk mengikuti dari belakang. Aku tidak mau pulang dengan lampu merah-biru mengikutiku. Tidak perlu satu gedung tahu pernikahanku berubah jadi kasus orang hilang dalam dua hari.

Di perjalanan pulang, aku mencoba menghubungi Kirana.

Tidak aktif.

Pesan yang kukirim hanya menunjukkan satu tanda centang.

Aku lalu menelepon Haris. Sambungan masuk, tetapi ia tidak menjawab. Anehnya, beberapa menit kemudian ia mengirim pesan.

Aku sedang menemui pihak keamanan perusahaan. Jangan bicara dengan siapa pun tentang arsip lama sebelum kita bertemu.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Jayan hilang. Darah ditemukan di mobilnya. Rekaman terakhir menyebut nama Haris.

Yang dikhawatirkan atasanku justru arsip perusahaan.

Aku menyimpan pesan itu.

Dua petugas memastikan apartemen kosong sebelum meninggalkanku. Mereka membawa sikat gigi Jayan, alat cukurnya, dan sarung bantal yang terakhir ia pakai. Aku berdiri di dekat pintu saat benda-benda itu dimasukkan ke kantong bukti.

Salah satu petugas menunjuk bunga-bunga di ruang tengah.

“Baru menikah?”

“Kelihatannya begitu.”

Ia tidak bertanya lagi.

Setelah pintu tertutup, kesunyian apartemen terasa lebih berat daripada sebelumnya. Bunga mawar mulai menunduk. Air di dalam vas berubah keruh. Kotak makanan yang dibawa Jayan masih berada di meja, belum disentuh.

Aku membuangnya.

Bukan karena marah; makanannya memang sudah basi.

Setidaknya, itu alasan yang kuberikan kepada diriku sendiri.

Aku kembali membuka foto penculikan. Jayan terbaring menyamping di lantai. Sebagian wajahnya tertutup bayangan. Darah merembes di bagian kanan kemejanya, tetapi aku tidak dapat melihat sumber lukanya.

Aku memperbesar gambar.

Latar belakangnya hanya dinding semen dan ujung lemari logam. Tidak ada jendela. Di lantai terlihat garis cat kuning yang biasa digunakan pada gudang atau parkiran.

Lihat selengkapnya