Suamiku Sudah Mati Tiga Kali

A.A.Pusung
Chapter #10

BAB 10 Pesan dari Lelaki yang Sudah Dikubur

Aku tidak memutar rekaman itu di apartemen.

Jayan sudah memperingatkanku agar tidak membuka kartu memori menggunakan jaringan rumah. Mungkin peringatannya cuma berlaku untuk berkas di dalam kartu. Bisa jadi telepon itu juga dilacak. Aku tidak tahu.

Aku membungkus empat paspor dan map merah menggunakan handuk, memasukkannya ke tas, lalu memotret kamar tersembunyi dari beberapa sudut.

Sebelum pergi, aku menutup kembali panel lemari.

Tidak sempurna. Ada celah tipis di sisi kanan yang akan kelihatan kalau seseorang memang mencarinya.

Aku mengambil tangga darurat, bukan lift. Di lantai sebelas, aku berpapasan dengan penghuni yang membawa kantong sampah. Ia mengangguk sambil menguap dan tidak memperhatikan tas besar di tanganku.

Di parkiran, aku tidak langsung masuk mobil. Aku memeriksa kolong, roda, lalu jok belakang.

Aku sendiri tidak tahu apa yang kucari.

Dua hari lalu, aku bahkan tidak tahu suamiku punya kamar rahasia berisi empat paspor.

Aku mengemudi menuju kedai internet dua puluh empat jam di dekat kampus. Tempat itu masih ramai meski malam hampir habis. Beberapa mahasiswa bermain gim memakai headphone, seorang pria tertidur di depan layar, dan penjaga kasir menonton video memasak tanpa suara.

Aku memilih komputer paling jauh dari kamera.

Telepon murah itu tidak terhubung ke internet. Berkas suara sudah tersimpan secara lokal. Aku memasang earphone milikku sendiri dan menekan putar.

Suara statis terdengar selama tiga detik sebelum seorang lelaki bicara.

“Maira Kalandra.”

Aku menghentikan rekaman.

Suaranya bukan suara Jayan.

Lebih berat. Sedikit serak. Ada jeda pendek di setiap akhir kalimat, seolah ia harus mengatur napas sebelum melanjutkan.

Aku menekan putar lagi.

“Kalau kau mendengar ini, berarti Jayan akhirnya gagal menjauhkanmu dari Rumah Sembilan.”

Lelaki itu batuk.

“Aku minta maaf karena mengirimkan kotak pada hari pernikahanmu. Tidak ada waktu yang baik untuk memberi tahu seseorang bahwa suaminya pernah dikuburkan tiga kali. Hari bahagia hanya membuat pesannya lebih sulit diabaikan.”

Tanganku mengencang pada earphone.

Pengirim kotak.

Ia mengatakan tidak ada waktu yang baik, tetapi memilih resepsi kami dengan sengaja.

“Namaku pernah Jayan Reswara. Kirana memanggilku Sena. Dua-duanya bukan nama kelahiranku.”

Aku menahan napas.

Sena.

Lelaki di makam pertama.

Lelaki yang kata Jayan sudah mati.

Rekaman berlanjut.

“Jangan tanya siapa yang berada di makamku. Aku belum bisa memberitahumu. Bukan karena aku ingin melindungi orang yang membunuh orang di makam itu. Aku sedang melindungi orang-orang yang hidup memakai sisa namanya.”

Suara kendaraan melintas di belakangnya. Ada bunyi klakson pendek, kemudian pengumuman dari pengeras suara yang tidak cukup jelas untuk kukenali.

Rekaman itu dibuat di tempat umum.

“Aku tahu kau memproses kematian kedua. Aku juga tahu kau tidak pernah melihat laporan Darmiati yang pertama. Laporan itu diganti sebelum sampai ke mejamu.”

Aku menghentikan rekaman lagi.

Catatan yang hilang dari buku kerjaku mengatakan Darmiati tidak melihat jenazah. Berarti lima tahun lalu aku pernah tahu soal itu, meski sekarang aku tidak ingat dari mana informasi itu datang.

Atau seseorang ingin aku percaya pernah mengetahuinya.

Aku melanjutkan.

“Jangan percaya semua yang disimpan Jayan. Sebagian dokumen di kamar itu dibuat agar dia bisa menemukan kami. Sebagian dibuat agar kami bisa menemukan dia. Empat paspor bukan berarti hanya ada empat orang.”

Suara Sena mengecil.

“Kau mungkin sedang memikirkan apakah ini rekaman lama. Bukan. Kemarin kau menikah di restoran dengan pohon flamboyan di halaman. Pita kursinya hijau tua. Jayan memakai dasi abu-abu yang terlalu sempit dan berpura-pura tidak gugup.”

Aku teringat Jayan mengeluh soal dasi itu sejak pagi.

Dia bisa saja mendapat informasi itu dari tamu, pelayan, atau foto.

Tapi Sena sengaja menyebutkannya. Dia ingin aku tahu bahwa Jayan masih diawasi.

“Selamat atas pernikahanmu,” lanjutnya. “Maaf aku merusaknya sebelum kue dipotong.”

Aku tidak tahu apakah harus marah atau kagum pada kekurangajarannya.

Rekaman berakhir setelah satu kalimat terakhir.

“Kalau Jayan belum kembali saat kau mendengar ini, jangan cari orang yang membawanya. Cari alasan dia membiarkan dirinya dibawa.”

Lihat selengkapnya