Aku tidak memutar rekaman itu di apartemen.
Jayan sudah memperingatkanku agar tidak membuka kartu memori saat tersambung ke jaringan rumah. Mungkin peringatan itu hanya berlaku untuk kartu memori. Telepon murah itu juga bisa dilacak. Aku tidak tahu.
Aku membungkus empat paspor dan map merah dengan handuk, memasukkannya ke tas, lalu memotret kamar tersembunyi dari beberapa sudut.
Sebelum pergi, aku menutup kembali panel lemari.
Tidak rapat. Ada celah tipis di sisi kanan yang akan kelihatan kalau seseorang memang mencarinya.
Aku mengambil tangga darurat, bukan lift. Di lantai sebelas, aku berpapasan dengan penghuni yang membawa kantong sampah. Ia mengangguk sambil menguap dan tidak memperhatikan tas besar di tanganku.
Di parkiran, aku tidak langsung masuk mobil. Aku memeriksa kolong, roda, lalu jok belakang.
Aku sendiri tidak tahu apa yang kucari.
Dua hari lalu, aku bahkan tidak tahu suamiku punya kamar rahasia berisi empat paspor.
Aku mengemudi menuju kedai internet dua puluh empat jam di dekat kampus. Tempat itu masih ramai meski malam hampir habis. Beberapa mahasiswa bermain gim memakai headphone, seorang pria tertidur di depan layar, dan penjaga kasir menonton video memasak tanpa suara.
Aku memilih komputer di sudut, sejauh mungkin dari kamera pengawas.
Telepon murah itu tidak kusambungkan ke internet. Berkas suara sudah tersimpan di dalamnya. Aku memasang earphone milikku sendiri dan menekan putar.
Suara statis terdengar selama tiga detik sebelum seorang lelaki bicara.
“Maira Kalandra.”
Aku menghentikan rekaman.
Bukan suara Jayan.
Suara lelaki itu lebih berat, agak serak, dengan jeda pendek di akhir kalimat seolah ia harus mengatur napas sebelum melanjutkan.
Aku menekan putar lagi.
“Kalau kau mendengar ini, berarti Jayan akhirnya gagal menjauhkanmu dari Rumah Sembilan.”
Lelaki itu batuk.
“Maaf aku mengirim kotak itu pada hari pernikahanmu. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bilang suamimu pernah dikuburkan tiga kali. Aku minta maaf, tapi aku harus memberitahumu.”
Tanganku mengencang pada earphone.
Jadi, dia yang mengirim kotak itu.
“Namaku pernah Jayan Reswara. Kirana memanggilku Sena. Dua-duanya bukan nama kelahiranku.”
Aku menahan napas.
Sena.
Lelaki di makam pertama.
Lelaki yang kata Jayan sudah mati.
Rekaman berlanjut.
“Jangan tanya siapa yang dikuburkan di makam atas namaku. Aku belum bisa menjawab. Bukan berarti aku ingin melindungi pembunuhnya. Aku sedang melindungi orang-orang yang masih memakai nama itu.”
Suara kendaraan melintas di belakangnya. Ada bunyi klakson pendek, lalu pengumuman dari pengeras suara yang tidak cukup jelas untuk kukenali.
Rekaman itu dibuat di tempat umum.
“Aku tahu kau memproses kematian kedua. Aku juga tahu kau tidak pernah melihat laporan pertama tentang Darmiati. Laporan itu diganti sebelum sampai ke mejamu.”
Aku menghentikan rekaman lagi.
Catatan yang berhasil kubaca dari bekas tulisan di halaman buku kerjaku menyebut Darmiati tidak pernah melihat jenazah. Berarti lima tahun lalu aku sudah menuliskan informasi itu, meski sekarang aku tidak ingat dari mana asalnya.
Atau seseorang ingin aku percaya bahwa aku pernah mengetahuinya.
Aku melanjutkan.
“Jangan percaya semua yang disimpan Jayan. Ada dokumen di kamar itu yang bisa dipakai Jayan untuk menemukan kami. Ada juga yang bisa kami pakai untuk melacak dia. Empat paspor bukan berarti cuma ada empat orang.”
Suara Sena mengecil.
“Mungkin kau bertanya-tanya apa rekaman ini sudah lama dibuat. Bukan. Kemarin kau menikah di restoran yang punya pohon flamboyan di halaman. Kursinya pakai pita hijau tua. Jayan memakai dasi abu-abu yang kekecilan dan pura-pura tidak gugup.”
Aku teringat Jayan mengeluh soal dasi itu sejak pagi.
Dia bisa saja mendapat informasi itu dari tamu, pelayan, atau foto.
Tapi Sena sengaja menyebutkannya. Dia ingin aku tahu bahwa Jayan masih diawasi.
“Selamat atas pernikahanmu,” lanjutnya. “Maaf aku merusaknya sebelum kue dipotong.”
Aku mendengus kesal. Dia sempat-sempatnya mengucapkan selamat.
Rekaman berakhir setelah satu kalimat terakhir.
“Kalau Jayan belum kembali saat kau mendengar ini, jangan langsung mencari orang yang membawanya. Pikirkan dulu kenapa dia membiarkan dirinya dibawa.”