“Sah.”
Satu kata itu jatuh seperti palu, mengunci hidupku tanpa kesempatan untuk menarik napas lebih dulu.
Aku tidak menangis. Tidak juga tersenyum. Aku hanya menunduk, menatap jemariku sendiri yang kini telah terikat cincin, seolah itu milik orang lain.
Ini bukan pernikahan. Ini eksekusi.
Semua orang bertepuk tangan. Beberapa bahkan bersorak kecil, seakan baru saja menyaksikan sesuatu yang membahagiakan.
Aku ingin tertawa.
Kalau saja ini bukan hidupku.
Seminggu lalu, Ayah masih mencoba “meyakinkanku”.
“Alya, minimal lihat dulu fotonya.”
Aku bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselku. “Nggak usah.”
“Kamu nggak kenal dia. Jangan langsung menilai.”
“Ayah juga nggak kenal pacarku, tapi langsung nge-judge dia buruk,” potongku dingin.
Ayah menghela napas panjang. “Ini beda.”
“Yang beda cuma usia dia, kan?” Aku akhirnya menatap Ayah. “Teman nongkrong Ayah. Emang Ayah kira aku bakal tertarik?”
Ponsel di tangan Ayah sempat terangkat, seolah ingin tetap memaksaku melihat.
Aku langsung mengalihkan wajah.
“Jangan,” kataku tegas. “Aku nggak mau punya bayangan wajah dia di kepala.”
Ayah terdiam cukup lama.
“Alya—”
“Kalau Ayah tetap maksa,” lanjutku tanpa memberi ruang, “aku bakal nikah. Tapi jangan harap aku nerima dia.”
Dan ternyata… Ayah memilih tetap memaksaku.
SAH
Sekarang aku duduk di sini.
Dengan pria yang bahkan tidak pernah kulihat wajahnya.
Suamiku.
Aku menahan napas sebentar, lalu menghembuskannya pelan.
Kesalahan terbesarku?
Bukan menikah.
Tapi… sengaja menutup mata.
“Alya, sekarang kamu sudah jadi istri orang. Jaga sikap kamu.” Suara Ayah terdengar rendah di sampingku.
Aku tidak menjawab. Untuk apa? Semua sudah selesai sejak dia memutuskan menjodohkanku dengan “teman nongkrongnya”.
Istilah paling menjijikkan yang pernah kudengar.
Teman nongkrong.
Di kepalaku, itu berarti pria tua, perut buncit, suara berat penuh asap rokok, dan kebiasaan tertawa keras tanpa alasan jelas.
Dan sekarang… aku menikah dengan pria itu.
Rega Mahendra.
Cincin di jariku terasa seperti borgol.
“Aku mau pulang,” kataku datar, masih tanpa menoleh.
“Belum waktunya,” sahut Ayah tegas. “Ikuti dulu prosesnya.”
Aku menarik napas panjang, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Marah, jijik, atau mungkin… putus asa.
Aku bahkan belum sempat menghubungi Rian sejak pagi.
Pasti dia panik. Pasti dia nyari aku.
Pikiranku langsung melayang pada satu-satunya orang yang kupikir akan menyelamatkanku dari semua ini.
Rian.
Dia pasti akan datang.
Dia janji.
Acara berjalan seperti kabut. Aku tidak benar-benar mendengar apa pun selain suara detak jantungku sendiri.
Sampai akhirnya aku duduk bersanding dengan pria itu.
Suamiku.
Aku tetap menunduk.
Tidak tertarik melihat wajahnya. Tidak ada yang perlu dilihat.