Ada suara dentuman keras dari lantai bawah. Sesuatu seperti kursi yang terguling atau meja yang dihantam keras. Lalu terdengar suara. Teriakan. Bukan teriakan marah, tapi lebih seperti jeritan dari perut yang kosong dan hati yang remuk. Suara itu—aku kenal betul. Itu suara Ibu.
Aku langsung terduduk tegak di tempat tidur. Jantungku berdegup kencang hingga terdengar bergemuruh di telingaku sendiri. Di dinding kamar yang gelap, angka digital jam dinding menyala merah: 02.46.
“Ibu...?” bisikku. Tapi hanya suara napasku sendiri yang terdengar.
Aku turun dari tempat tidur dengan lutut goyah. Kakiku menyentuh lantai yang dingin. Aku membuka pintu pelan, berharap suara engsel tak membangunkan siapa pun. Tapi semua sudah bangun, kan? Atau... semua sudah hancur?
Langkahku ragu menuruni anak tangga satu per satu. Suasana rumah hening mencekam. Napasku seperti tertahan di kerongkongan, sementara tanganku meraba pegangan tangga yang terasa licin oleh keringat dingin.
Lantai bawah remang. Lampu dapur menyala lemah, cukup untuk menampakkan siluet sosok Ayah berdiri di ruang tengah. Ayah diam tak bergerak, tetapi bahunya naik-turun cepat. Dadanya membusung dan mengempis seperti orang yang baru saja berlari jarak jauh. Suara napasnya serak dan berat. Dari tangannya yang terkulai di samping tubuh, ada sesuatu yang menggantung.
Aku melangkah lebih dekat, dan baru kusadari itu... palu. Palu besi. Gelap oleh sesuatu yang lengket dan pekat. Aku menelan ludah. Ingin bersuara, tapi mulutku membatu.
Mataku yang perlahan terbiasa dengan keremangan mulai menangkap detail lain. Di bawah kaki Ayah, ada gundukan gelap yang tergeletak di atas ubin. Awalnya kupikir itu hanya tumpukan pakaian atau selimut yang jatuh.
Namun, ketika aku melangkah lebih dekat lagi, bayangan itu mulai terbentuk.
Ada potongan kain daster. Ada helai-helai rambut hitam panjang yang terurai acak. Dan di sekelilingnya, permukaan ubin putih yang tersiram cahaya remang tampak mengkilap—dilapisi cairan kental berwarna gelap yang merembet perlahan, mencari celah nat lantai.