Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #2

Sunyi

Pagi tetap datang seperti biasa. Tidak peduli dengan keadaan manusia di bawah sana. Matahari yang muncul di langit timur, sinar yang menyusup lewat sela tirai jendela, begitu juga ubin yang tak lagi bersih. Yang sudah berbeda adalah rumahku. Rumah ini tidak mungkin lagi sama.

Aku duduk mematung di anak tangga. Punggungku bersandar pada dinding. Mataku tidak bisa terpejam sejak semalam. Pandanganku menatap lurus ke arah ruang tengah, ke arah tubuh Ibu yang kini telah ditutupi kain putih—selimut tua yang kemarin dipakai Ayah untuk membenahi atap bocor.

Dini hari itu aku terlalu takut untuk lari. Kakiku sudah terburu gemetar melihat Ayah yang memegang palu. Rasa takut, rasa sedih, rasa frustasi menolak kenyataan yang menohok di depan mata, membuatku pikiranku lumpuh, diikuti oleh tubuhku. Aku hanya pasrah terduduk lemas di sini. Namun Ayah sepertinya juga punya masalahnya sendiri.

Ayah belum bicara apa pun lagi sejak malam itu. Setelah ia duduk dan menyandarkan kepala ke dinding, ia hanya diam. Ia tidak menyapaku, seolah aku tidak ada di situ. Sesekali matanya terbuka, menatap kosong ke langit-langit, lalu tertutup lagi. Nafasnya tetap ada, tapi jiwanya entah di mana.

Aku ingin menelepon polisi, atau siapa pun. Tapi ponselku mati. Dan aku terlalu takut menyentuh benda lain, seolah setiap sentuhan akan meninggalkan bekas dosa. Bahkan langkahku di lantai terasa seperti sebuah kesalahan. Berjam-jam aku dan Ayah hanya mematung di tempat kami masing-masing. Sampai pagi.

Sekitar pukul enam, aku akhirnya mampu berdiri. Kaki kesemutan, tengkuk pegal, dan tubuhku seperti baru diseret dari kubangan lumpur. Aku berjalan pelan ke dapur. Membuka keran. Air mengalir. Suara paling wajar yang kudengar sejak semalam. Aku membasuh wajah, lalu menatap bayanganku di cermin kecil yang tergantung di dinding dekat rak piring. Berharap semuanya hanya mimpi. Tapi tidak. Wajahku tidak kunjung hilang dari cermin.

Wajah pucat. Mata bengkak. Seorang gadis usia lima belas yang semalam masih sempat mengeluh karena PR matematika kini berdiri seperti mayat hidup. Aku mengusap wajahku, berharap bisa menghapus semuanya. Tapi jejak darah itu masih ada. Di pikiranku. Di hidungku. Di mataku.

Langkah kaki dari ruang tengah membuatku menoleh. Ayah. Ia masih mengenakan baju semalam, sekarang penuh noda dan kerutan. Ia berjalan seperti orang linglung, lalu duduk di kursi dekat jendela. Ia menatap ke luar. Tapi aku tahu, ia tidak melihat apa-apa.

“Ayah ....” Aku cuma membuka suara sebentar. Pelan, ragu, takut.

Ia tidak menjawab.

Aku berjalan mendekat. Hatiku menjerit. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak, menanyakan kenapa, bagaimana bisa ... tapi suaraku tak mampu mengeluarkan semua itu. Hanya satu kalimat yang akhirnya keluar dari mulutku.

“Aku harus melapor.”

Ayah menoleh. Matanya merah, seperti habis terbakar. “Tunggu sebentar ....”

“Tunggu apa?” Suaraku naik satu oktaf. “Ibu ... sudah ... Ayah ...?”

“Tunggu sebentar,” ulangnya. Tangannya terangkat pelan, seperti sedang berusaha menahan angin agar tidak lewat.

Lihat selengkapnya