Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #3

Rumah yang Hilang

Tanah merah itu basah oleh air bunga dan air mata. Aku berdiri mematung, memandangi liang yang menelan tubuh Ibu. Angin sore seolah enggan berhembus. Langit mendung, tapi belum hujan. Hanya sunyi yang menggantung di area pemakaman.

Tak ada suara tangis histeris. Tak ada pelukan penguat. Hanya langkah-langkah pelan, wajah-wajah yang menunduk, dan bisik-bisik kecil yang menampar pelan.

“Suaminya tega sekali ....”

“Kasihan, anak itu ... sekarang sendirian.”

“Ibu tirinya padahal baik, ya? Nggak nyangka ....”

Aku mendengar semuanya, meski tak satupun dari mereka bicara padaku langsung. Ayah tidak datang. Sudah jelas. Ia tak akan dibebaskan hanya demi mengantar jenazah perempuan yang ia—entah sengaja atau tidak—telah bunuh. Dan aku berdiri sendiri di antara kerumunan.

Kecuali satu orang. Paman Satya—adik kandung Ayah—berdiri tak jauh dariku. Ia datang bersama istrinya dan anak laki-lakinya yang kini sudah remaja, seusia kelas sebelas mungkin. Dulu kami sempat sering bermain waktu kecil. Tapi sekarang bahkan aku lupa namanya. Mereka tinggal di kota lain dan jarang berkunjung.

Paman hanya menatapku sebentar lalu menunduk. Aku tahu, ia juga bingung harus berkata apa. Aku pun begitu. Kami hanya saling diam.

Lihat selengkapnya