Satu minggu setelah pemakaman. Garis polisi yang sebelumnya melintang di pagar rumahku akhirnya dilepas. Rumah itu tak lagi berstatus TKP. Meski bagiku, rumah itu tetap menyimpan jejak tragedi yang tak akan bisa dihapus oleh garis kuning atau laporan penyelidikan. Selama satu minggu terakhir aku tinggal di rumah Paman Satya. Baru hari ini beliau mengantarkanku pulang.
Langit sore mendung, seolah belum selesai meratapi kepergian Ibu. Mobil Paman berhenti tepat di depan pagar. Aku menatap bangunan itu dalam diam. Tidak ada yang berubah secara fisik. Tapi semuanya terasa asing. Rumah itu tidak lagi rumah. Ia seperti kulit kosong yang ditinggalkan jiwanya.
“Kunci rumahnya ada di sini,” kata Paman. Dia menyerahkan gantungan kunci kepadaku. Suaranya pelan dan penuh empati. “Kalau kamu butuh apa-apa, langsung telepon Paman, ya.”
Aku mengangguk, meski tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan ucapan terima kasih pun sulit keluar dari mulutku. Tubuhku masih lelah, dan jiwaku lebih lelah lagi. Aku turun dari mobil, membuka pagar, dan melangkah masuk ke halaman yang sepi. Rumput liar mulai tumbuh di sela-sela bata jalan setapak.
Rumahku sebenarnya tergolong besar. Dua lantai dengan halaman yang luas. Namun isinya minim, atau perabotan di dalamnya tidak sesuai dengan kemegahan rumahnya. Seiring dengan perekonomian Ayah yang memburuk sejak Ibu terperangkap dalam dunianya sendiri.
Begitu aku membuka pintu rumah udara lembap langsung menyergap wajahku. Aroma bekas bunga duka dan sisa-sisa makanan basi dari dapur mencampur dalam udara yang berat. Aku melangkah pelan. Sepatu kulepaskan. Tas kuletakkan begitu saja di lantai ruang tamu. Mataku menyapu seisi ruangan.
Ada bercak kecil di lantai yang sudah dibersihkan oleh tim forensik. Tapi aku tahu, di situlah Ibu terjatuh. Di situlah malam itu berhenti menjadi malam biasa. Aku memalingkan wajahku, menahan napas yang tercekat.
Aku naik ke kamarku. Masih seperti saat terakhir kutinggalkan. Sprei berantakan, buku-buku bertumpuk di meja, dan sebuah bingkai foto di atas meja itu. Aku meraih bingkai itu—foto lama yang sudah sedikit buram. Aku yang masih kecil, mungkin umur enam tahun, tersenyum kikuk di antara Ayah dan seorang perempuan muda dengan senyum hangat dan mata teduh. Perempuan itu bukan ibu kandungku. Tapi entah sejak kapan, aku mulai mengingatnya sebagai Ibu.
Waktu itu aku masih bocah, belum tahu banyak soal dunia. Aku hanya tahu, suatu hari, Bunda menghilang. Tanpa pamit, tanpa peluk terakhir. Tiba-tiba saja, pagi itu aku bangun dan ia tak ada di dapur. Ayah mengatakan kami akan mulai dari awal. Tapi yang tidak ia katakan: bahwa “awal” itu berarti tanpa Bunda.
Setahun kemudian, Ayah mengenalkan perempuan itu. Namanya Luna. Cantik, muda, dan lembut. Terlalu lembut bahkan untuk suara rumah kami yang terlalu kaku.
“Ini Tante Luna,” kata Ayah saat pertama kali membawanya masuk ke rumah, “Ayah … ingin menikah dengannya.”
Aku diam. Menatapnya. Perempuan itu tersenyum dan membungkuk di hadapanku.
“Halo, Dina. Tante udah lama pengin ketemu kamu. Dengar-dengar kamu suka gambar, ya?” katanya. Suaranya seperti gerimis yang turun perlahan di siang mendung.
Tapi aku hanya melirik, lalu berlari ke kamar. Menutup pintu keras-keras. Aku tak suka dia. Tak suka senyumnya. Tak suka bagaimana Ayah menggenggam tangannya seperti dulu ia menggenggam tangan Bunda. Aku takut … takut lupa wajah ibu kandungku yang sebenarnya.
Beberapa minggu kemudian mereka menikah. Tanpa pesta. Hanya surat undangan sederhana yang bahkan tidak kubaca. Hari itu aku mengurung diri. Saat kudengar suara tamu-tamu datang, aku pura-pura sakit perut. Ayah membiarkanku.
Setelah itu rumah berubah. Tante Luna pindah ke rumah ini. Ia membersihkan rumah, mengecat ulang dinding ruang tamu yang kusam, mengganti gorden. Ia menaruh vas bunga segar di meja makan. Setiap pagi, ia bangun paling dulu, menyiapkan sarapan, membangunkan Ayah dengan secangkir teh manis, dan mengetuk pintu kamarku dengan suara pelan.