Aku tidak langsung masuk ke rumah siang itu. Habis dari taman belakang, aku sempat berdiri lama di depan pintu dapur yang menghadap ke halaman. Pintu itu dulu selalu terbuka, membiarkan aroma masakan Ibu menguap sampai ke luar. Sekarang, yang ada hanya angin dan debu.
Paman Satya sebenarnya memintaku untuk tetap tinggal di rumahnya sampai semuanya lebih tenang. Tapi aku menolak. Bukan karena aku kuat, justru karena aku ingin sendiri. Seorang diri di rumah ini, dengan kenangan yang belum sempat kuurai.
Malamnya aku duduk di meja makan yang dulu Ibu tata rapi. Piring dan gelas masih di tempatnya, seolah menunggu seseorang datang dan menyapanya. Aku mengambil satu gelas, membersihkannya, lalu menuang air hangat. Tangan kiriku gemetar. Entah karena dingin atau karena rasa hampa yang menyergap tiba-tiba.
Koran pagi yang ditinggalkan Paman di meja masih terbuka di halaman berita kriminal. Di sana, foto rumah kami terpampang hitam-putih. Judul besar bertuliskan: “Perempuan Ditemukan Tewas di Rumahnya, Diduga Dibunuh Suami.” Aku tidak sanggup membacanya lebih lanjut. Judul itu terasa seperti luka yang dijadikan tontonan publik.
Aku menunduk, memejamkan mata. Tapi bayangan malam itu kembali datang. Suara benda jatuh. Teriakan tercekat. Bau besi dan bunga yang anehnya menyatu. Lalu ... hening. Hening yang menakutkan.
Aku ingin tahu kenapa Ayah melakukan itu. Tapi lebih dari itu, aku ingin tahu ... benarkah Ayah benar-benar melakukannya? Apa yang membuat Ayah sampai hati menghabisi hidup istrinya sendiri?
***
Beberapa hari berlalu sejak rumah ini dirapikan. Ruangan demi ruangan telah kubersihkan, meski rasanya seperti menyeka luka yang belum sembuh. Namun ada satu ruangan yang belum pernah kusentuh sejak kejadian itu—kamar Ayah dan Ibu. Setiap kali melewati pintunya yang tertutup, napasku tercekat. Tapi siang ini, entah mengapa, aku merasa harus masuk. Seolah ada sesuatu di dalam yang memanggilku.
Dengan langkah pelan, kubuka pintu kamar itu. Hawa di dalamnya lembap dan sejuk. Tirai krem setengah tertutup membiarkan cahaya menelusup ke dalam ruangan. Mataku tertumbuk pada tempat tidur rapi yang masih menyisakan lipatan selimut di sisi Ibu biasanya tidur. Di sebelah kanan, baju-baju Ibu tergantung rapi di lemari. Beberapa di antaranya masih menyimpan aroma wewangian lembut yang biasa ia pakai. Aku menyentuh salah satunya, dan dadaku sesak. Tangisku pecah, pelan, tapi menyayat.
Di sudut meja rias, kutemukan sisir kayu milik Ibu, bedak tabur yang masih tersisa, dan sebuah kotak perhiasan kecil yang terbuka. Di bawah tumpukan tisu, ada sebuah buku bersampul kain motif bunga mawar. Diary. Buku harian Ibu.
Aku mengambilnya dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang rapuh. Di halaman pertama, tertera tulisan tangan Ibu:
“Untuk hatiku sendiri. Agar tak meledak saat dunia terlalu sunyi.”
Aku menelan ludah. Tanganku gemetar saat mulai membalik halaman-halaman awal yang dipenuhi tulisan rapi dengan tinta biru.
03 Maret 2009
Pernikahan kami sederhana. Mas Nugroho bukan tipe lelaki yang banyak bicara, tapi ia menunjukkan perhatian dengan cara-cara kecil. Ia memintaku memilih warna cat dinding kamar. Ia tak bertanya banyak tentang masa laluku di panti asuhan, hanya menggenggam tanganku seolah berkata bahwa semua itu tak membuatku kurang. Itu cukup membuatku percaya bahwa aku akan baik-baik saja.
Tapi ternyata menikah bukan sekadar berbagi tempat tidur dan meja makan. Aku tidak hanya menikah dengan Mas Nugroho. Aku juga “menikah” dengan seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Dina.
Hari pertama tinggal bersamanya, aku membuat sarapan telur dadar. Dina menatapku tanpa suara, lalu pergi meninggalkan meja. Mas Nugroho hanya menatapku sebentar, menghampiriku dan menepuk pundakku pelan, lalu melanjutkan menyuap makanannya, seolah ingin hal itu dianggap biasa. Aku menangis diam-diam di kamar mandi. Rasanya aku tidak diinginkan.
10 Desember 2009
Dina masih belum mau menyapaku. Kalau bicara, hanya sepatah dua kata. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Mas Nugroho bilang, jangan dipaksakan. Aku mencoba mendekatinya pelan-pelan. Membacakan dongeng. Menaruh permen di meja belajarnya. Menjahit boneka yang robek.
Suatu malam, aku mendengar tangisnya. Aku masuk tanpa mengetuk, dan ia berbalik. Matanya merah. “Tante Luna nggak akan pernah bisa gantiin Bunda,” katanya.