Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #6

Antara Ibu dan Aruna

Aku masih mengusap foto kecil itu, yang bentuknya buram, tapi jelas memperlihatkan sebuah janin mungil di dalam rahim. Aruna.

Aku tak tahu banyak tentang kehamilan. Tapi hari ini, saat melihat foto ini, aku jadi mengingat cerita-cerita yang pernah kudengar—cerita yang dulu tidak benar-benar kupahami. Cerita tentang Ibu yang selalu mual setiap hari, bahkan sampai tak bisa berdiri. Tentang Ibu yang harus berhenti makan nasi karena gulanya tinggi. Kata Ayah, dokter bilang Ibu bisa kena diabetes kalau tetap makan seperti biasa. Tapi aku tak mengerti—bukankah nasi itu makanan orang Indonesia?

Katanya, trimester pertama adalah neraka bagi Ibu. Dia selalu muntah setiap kali makan, bahkan saat minum air putih. Berat badannya turun drastis. Pipi yang biasanya penuh jadi cekung. Tubuh yang dulu hangat dan kuat mulai kurus dan lemas. Bahkan wangi sabun atau bau masakan bisa membuatnya mual hebat. Pernah satu malam, aku mendengar Ibu muntah sambil menangis. Ayah sampai harus menggendongnya ke kamar mandi. Tangannya gemetar, dan matanya nyaris tak bisa terbuka. Tapi saat aku muncul di ambang pintu, ia tetap tersenyum.

“Kakak, maaf ya, Ibu belum bisa temani belajar malam ini ...,” katanya lirih. Aku hanya mengangguk, tak berani mendekat karena takut mengganggu. Tapi mukaku melengos Waktu itu aku baru kelas 6 SD, belum mengerti betapa berbahayanya kondisi Ibu.

Setiap bulan, Ibu harus kontrol ke rumah sakit. Dokternya bilang, kadar gula darah Ibu sangat tidak stabil. Naik-turun seperti roller coaster. Padahal ia sudah menghindari nasi, tidak makan manis, bahkan mengganti air putih dengan air rebusan kayu manis. Tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama. Satu kali, saat di rumah sakit, Ibu tiba-tiba kejang dan pingsan di ruang tunggu. Aku ingat karena Ayah langsung mengangkatnya dan berteriak minta tolong. Perawat datang, dan semua jadi panik. Aku bersembunyi di balik kursi, menangis diam-diam.

Setelah sadar, Ibu sempat mengelus rambutku. Katanya, “Maaf ya, Kakak jadi takut .... Tapi demi Adik, Ibu harus kuat.”

Trimester kedua katanya lebih ringan, tapi itu bohong. Meski mual sudah berkurang, justru saat itu dokter bilang kalau ada kelainan di kandungannya. Letak plasenta Aruna menutupi jalan lahir. Kata dokter, itu namanya plasenta previa. Jika dibiarkan, bisa berakibat pendarahan hebat saat lahiran nanti. Tapi operasi juga berisiko besar, apalagi dengan kondisi gula darah Ibu yang tidak stabil.

Waktu itu Ibu dilarang bergerak banyak. Bahkan untuk naik tangga pun tidak boleh. Ia lebih sering rebahan, ditemani segelas susu rendah gula dan semangkuk buah. Tapi diam pun menyiksa. Aku tahu karena sering melihatnya menatap keluar jendela, memandangi halaman rumah yang dulu sering ia sapu sendiri. Tangannya gatal ingin bekerja, tapi tubuhnya tak diiznkan.

Lalu masuk trimester ketiga, hari-hari makin berat. Kaki Ibu bengkak, tangannya pun begitu. Napasnya pendek-pendek. Wajahnya pucat. Kadang malam-malam aku terbangun dan melihatnya duduk di sofa dengan bantal di punggung, matanya terbuka lebar menahan sakit.

Lihat selengkapnya