Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #8

Pelan tapi Pasti

Sudah dua minggu berlalu sejak malam yang mengubah hidupku. Dua minggu sejak aku melihat tubuh ibuku terbujur kaku di ruang tengah dan ayahku digelandang polisi dengan wajah tanpa ekspresi. Dua minggu sejak rumah kami berubah dari tempat berlindung menjadi sumber bisik-bisik dan tatapan iba. Hari ini aku kembali ke sekolah. Kebetulan hari ini jadwal ujian susulan USBN. Aku tidak mengikuti ujian utama karena saat itu aku masih terguncang, bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Pagi ini udara masih menyisakan embun ketika aku melangkah keluar rumah. Seragam SMP yang sudah agak sempit di bagian bahu terasa asing membalut tubuhku. Rambutku, yang di dalam jilbab, kukuncir seadanya, serta sepatu hitam yang sudah jarang kupakai rasanya kaku di kaki. Aku memeluk buku paketku erat-erat, seolah menjadi perisai dari pandangan dunia.

Langkahku menyusuri trotoar menuju sekolah lebih pelan dari biasanya. Setiap derit pagar yang kulewati, setiap suara motor yang melintas, seolah mengingatkanku bahwa dunia tidak berhenti bersedih bersamaku. Ia terus berjalan. Dan pagi ini, aku memaksakan diriku ikut melangkah bersamanya.

Gerbang sekolah terlihat dari kejauhan. Ada sekelompok siswa duduk-duduk di taman depan, sebagian lainnya berlarian kecil menuju kelas. Langkahku terasa berat saat memasuki gerbang. Aku tahu akan ada banyak mata yang menatap. Dan benar saja, begitu aku melangkah ke halaman sekolah, suasana langsung terasa berbeda. Beberapa anak yang sedang duduk-duduk di bangku taman berhenti bicara saat aku lewat. Ada yang menunduk cepat-cepat, ada yang saling menyikut dan berbisik. Aku pura-pura tidak melihat. Aku hanya ingin cepat sampai ke ruang ujian.

“Peserta ujian susulan harap menuju ke aula,” suara speaker sekolah terdengar jelas. Aku menarik napas dalam-dalam dan melangkah menuju aula yang biasanya dipakai untuk acara besar. Tapi hari ini, aula itu terasa asing. Lengang. Kosong. Hanya ada beberapa meja dan kursi di tengah ruangan.

Seorang guru duduk di ujung ruangan, entah siapa, karena aku tidak terlalu menoleh. Ia hanya mengangguk kecil saat aku masuk. Aku duduk, membuka lembar soal, dan berusaha fokus. Tapi denting jam dinding dan suara kipas angin tua membuat suasana terasa lebih sunyi dari yang seharusnya.

Beberapa soal kujawab cepat, tapi selebihnya … entah. Otakku seperti belum sepenuhnya siap. Tapi aku tetap mencoba. Karena aku tahu, hidup tidak akan menunggu.

Setelah ujian selesai, aku berjalan kembali ke kelas. Suasana sedikit lebih hangat. Rina melambai kecil, Mila tersenyum tipis, dan Fira menepuk bangku kosong di sebelahnya. Aku duduk. Tidak bicara. Tapi cukup tahu bahwa setidaknya di kelas ini, aku masih punya tempat.

“Selamat datang kembali, Dina,” kata Bu Riska dengan senyum tulus saat beliau masuk ke kelas. Tatapan matanya penuh empati, bukan iba. Aku mengangguk.

Saat jam istirahat kedua, beberapa anak dari kelas lain sengaja datang ke kelasku. Mereka duduk tak jauh dari mejaku. Awalnya hanya ngobrol biasa, tapi kemudian ke situ juga.

“Serius, katanya pas itu mayat ibunya masih di rumah ya pas dia pagi-pagi ke rumah Pak RT? Ih ngeri banget.”

“Dan katanya dia sempat liat kejadian itu lho. Ayahnya pegang palu gitu. Aku gak bisa bayangin.”

Aku mencoba tak mendengar. Tapi suaranya cukup jelas. Mereka tak peduli aku ada di sana. Mereka hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka. Tentang tragedi hidupku. Orang-orang seperti mereka selalu ada. Aku mencoba pura-pura tak mendengar. Kuingat lagi wajah orang-orang baik seperti Bu Riska untuk menguatkan hatiku.

Setelah pelajaran usai, Bu Riska memintaku untuk menemuinya di ruang guru. Aku menurut. Di sana, beliau sudah menunggu bersama Mila, Rina, dan Fira.

Lihat selengkapnya