Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #10

Bangkit

Beberapa hari terakhir rumahku tidak lagi sesepi biasanya. Sejak Paman dan keluarganya datang setidaknya ada suara-suara yang menemani. Tapi hari ini rumah kembali sunyi. Paman harus kembali ke kota tempat tinggalnya, begitu juga Davin, sepupu yang akhirnya kuingat namanya, yang harus masuk sekolah. Hanya Tante Rani yang memutuskan tinggal lebih lama untuk menemaniku. Katanya, dia belum tenang meninggalkanku sendirian setelah semua kejadian itu.

Aku tidak banyak bicara. Bahkan sejak kejadian di toilet sekolah—ketika tanpa sengaja aku mendengar Siska dan Nana membicarakanku seolah aku adalah makhluk hina—aku semakin menutup diri. Rasanya seperti dihantam keras tepat di dada. Aku pikir aku sudah cukup kuat. Tapi ternyata luka-luka itu belum benar-benar sembuh. Dan saat kudengar kalimat mereka, luka itu kembali terkoyak dan terbuka lebar.

Sejak hari itu aku tak membalas chat siapa pun. Tidak membuka pintu. Bahkan Tante Rani pun harus mengetuk berkali-kali setiap hendak masuk ke kamarku. Aku hanya ingin tidur, atau duduk di sudut tempat tidurku memeluk lutut. Aku takut keluar. Takut melihat dunia. Takut bertemu mata-mata yang menatap penuh penilaian, atau mungkin kasihan, atau … jijik. Aku tidak tahu. Dan aku lelah menebak-nebak.

Tapi hari ini berbeda. Ada suara-suara dari luar kamar. Aku mendengar suara Tante Rani berbicara dengan seseorang. Lalu suara langkah kaki menaiki tangga. Dan sebelum aku sempat menarik selimut, pintuku diketuk perlahan.

“Dina, boleh kami masuk?” Suara itu ... Rina. Aku tercekat. Belum sempat kujawab, pintu itu sudah terbuka perlahan. Di baliknya, Rina, Mila, dan Fira berdiri dengan mata berkaca-kaca. Mereka tidak langsung bicara. Mereka hanya berjalan pelan ke arahku, lalu memelukku bersamaan. Dan entah bagaimana, aku akhirnya menangis lagi. Bukan karena sedih. Tapi karena ada yang masih peduli.

“Kami tahu semuanya, Dina,” ujar Mila pelan. “Tante kamu cerita. Kami juga udah datang berkali-kali, tapi kamu selalu menolak.”

Fira menggenggam tanganku. “Kami nggak akan maksa kamu untuk cerita atau kuat sekarang juga. Tapi kami di sini. Selalu di sini.”

Aku mengangguk pelan. Air mataku mengalir tanpa bisa kuhentikan. Rina mengelus rambutku sambil berkata, “Kamu nggak sendiri, Din. Dan kamu nggak salah. Orang-orang bisa ngomong apa aja, tapi mereka nggak tahu rasanya jadi kamu.”

Kami duduk lama dalam keheningan. Aku merasa lebih tenang. Seakan pelukan mereka memberi sedikit ruang bernapas dalam hidupku yang gelap.

“Dina,” kata Mila setelah beberapa saat. “Kami ke sini juga mau ajak kamu balik ke sekolah.”

Aku menatap mereka. Bibirku gemetar. “Aku takut .…”

“Kami tahu,” jawab Rina cepat. “Tapi ini tentang perpisahan kita. Mungkin ini momen terakhir kita bareng. Setelah ini, kita nggak tahu bisa sekolah bareng lagi atau nggak.”

Fira menambahkan, “Dan kami nggak mau momen terakhir ini tanpa kamu. Karena kamu bagian dari kami.”

Aku terdiam. Perpisahan. Kata itu membuat hatiku berdesir aneh. Ada rasa takut, tapi juga keinginan untuk tidak melewatkan kesempatan yang mungkin tak datang dua kali.

Lihat selengkapnya