Suara riuh sudah terdengar sejak mobil berhenti di gerbang sekolah. Balon warna-warni tergantung di pintu masuk aula. Spanduk bertuliskan “Selamat Jalan, Angkatan 2015. Terbanglah Tinggi Menggapai Impian!” terpasang mencolok di atas panggung. Di sudut-sudut ruangan tampak beberapa guru sibuk memastikan semuanya berjalan lancar. Hari ini hari perpisahan.
Langkahku pelan. Aku menunduk sambil menggenggam erat tangan Tante Rani. Napasku terasa sesak, bukan hanya karena udara aula yang penuh, tapi karena segala beban yang masih tertinggal dalam dada.
Satu per satu temanku menoleh saat aku masuk. Beberapa dari mereka tersenyum, yang lain hanya menatap tanpa banyak ekspresi. Aku tidak tahu harus membalas bagaimana. Tapi di tengah keraguan itu, tiga tangan melambai dari deretan kursi depan. Rina, Mila, dan Fira berdiri dan segera menghampiri.
“Dina!” seru Rina sambil menarikku dalam pelukan singkat. “Kamu datang juga!”
Aku mengangguk kecil. Mila menepuk bahuku lembut. “Kita bareng-bareng, ya. Sampai akhir.”
Fira merapikan bros di kerudungku yang miring sedikit. “Kamu cantik hari ini, Din. Beneran.”
Ada senyum kecil yang muncul di bibirku. Tak banyak, tapi cukup untuk memulai hari.
Kami duduk bersama di barisan tengah, tepat di dekat panggung yang dihiasi rangkaian bunga segar dan tirai berwarna krem. Di sekeliling aula tampak hiasan kertas warna-warni menggantung di langit-langit. Sementara cahaya lampu sorot menyoroti panggung dengan lembut, menciptakan suasana hangat dan meriah. Sebuah layar besar menampilkan slide foto-foto kenangan selama tiga tahun kami bersama—dari saat MOS, pelajaran olahraga, hingga kegiatan seni dan lomba-lomba kecil. Aku memperhatikan wajah-wajah yang pernah kurasakan hangatnya persahabatan dan juga yang pernah menggores luka dalam hidupku.
Aula mulai dipenuhi undangan. Orang tua dan guru berdatangan. Raut bangga, haru, dan juga antusias tampak dari wajah-wajah mereka. Musik pelan mengalun sebagai latar, menambah suasana menjadi sakral.
Saat nama-nama siswa dipanggil bergiliran ke atas panggung untuk menerima medali dan sertifikat, tanganku berkeringat. Aku tak yakin bisa berdiri dengan tegak saat itu.
Namaku disebut.
“Dina Salsabila.”
Langkahku pelan, tapi pasti. Satu per satu tangga kecil menuju panggung kulewati. Aku bisa melihat dari sudut mata, sebagian besar teman-teman bertepuk tangan. Dan ... di antara deretan siswa itu, aku menangkap pandangan mata Siska. Dia menatapku—entah kagum, bingung, atau mungkin heran kenapa aku masih bisa tersenyum hari ini.
Aku berdiri di tengah panggung, menerima medali dari kepala sekolah. Beliau tersenyum padaku. “Kamu sudah melangkah jauh, Dina. Terus kuat, ya.”
Aku mengangguk kecil. Senyumku tipis, tapi dalam hati terasa penuh.
Setelah semua siswa selesai menerima medali, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni dari teman-teman kelas 9 serta para siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler seni. Ada yang membacakan puisi, ada pula yang menyanyi sambil diiringi gitar. Aku menyimak sambil duduk diam, walau pikiranku melayang entah ke mana.
Tiba-tiba Rina menggenggam tanganku perlahan, “Gimana perasaanmu sekarang, Din?”