Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #12

Lelah dan Nestapa

Dua Tahun Lalu

Hari itu langit mendadak berubah kelabu. Hujan turun tanpa aba-aba. Padahal beberapa menit sebelumnya aku masih tertawa bersama Ibu dan Aruna di ruang tengah. Kami baru saja membereskan mainan Aruna. Dia sedang senang-senangnya berjalan tertatih. Langkahnya masih goyah, tapi selalu penuh semangat.

Ibu tertawa kecil melihat Aruna mencoba berdiri tanpa bantuan. “Anak pintar ... sebentar lagi bisa lari-lari ya, Nak,” katanya sambil mengecup kepala adikku.

Tapi tawa itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba hujan datang. Suara rintiknya menyentuh genting seperti bunyi gemuruh dari langit. Refleks, Ibu berdiri dan berlari ke depan rumah. “Jemuran!” serunya. Aku tahu itu berarti handuk, pakaian bayi, popok kain—semuanya belum diangkat.

Aku ikut berdiri, melihat sepatuku yang masih tergantung di jemuran samping. Aku berpikir hanya sebentar. Hanya akan mengambil sepatuku. Hanya butuh satu menit.

Aku tak bilang apa-apa pada Ibu. Dan Ibu pun tak menoleh padaku. Karena dia yakin ... aku akan tetap bersama Aruna.

Aku ingat dinginnya lantai saat kakiku menapaknya. Ingat suara hujan yang semakin deras. Ingat langkahku yang bergegas ke sisi rumah. Sepatuku sudah basah. Tapi aku tak peduli.

Aku ingat juga—dan ini bagian terburuknya—aku sempat memungut daun jambu air yang jatuh. Karena bentuknya lucu. Aku bahkan sempat tersenyum.

Ketika aku kembali ke dalam rumah, semuanya terasa beku. Ibu berdiri membatu di ambang ruang tengah. Matanya melebar, wajahnya pucat. “Aruna!” jeritnya. Dan aku segera tahu sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Aku ikut melihat ke arah Aruna. Tubuhnya kecil, menggelepar di lantai. Matanya setengah terbuka. Bibirnya membiru. Nafasnya tercekik. Dan di dekatnya—aku tak ingin mengingat benda kecil itu. Butiran kelereng. Kelereng punyaku yang sudah lama entah ke mana. Sesuatu yang seharusnya tidak berada di sana. Sesuatu yang mungkin bergulir dari sela-sela tumpukan mainan lainnya, tak terlihat, tak sengaja terambil Aruna.

Ibu langsung berlutut, mengangkat Aruna ke pelukannya. Ibu mengguncang tubuhnya panik, menepuk-nepuk punggungnya, mencari-cari nafas, melakukan apapun yang Ibu bisa. Mulutnya terus memanggil Aruna, memohon, menangis, berteriak. “Bangun, Nak ... Aruna ... nafas, Nak ...!”

Aku terpaku. Kakiku lemas bagai tak bertulang. Lututku gemetar hebat sampai-sampai aku harus berpegangan pada dinding agar tidak ambruk.

“Ya Allah ... ya Allah ... tolong anakku...!”

Benda yang tersangkut di tenggorokan Aruna tidak kunjung keluar. Gerakan tubuhnya semakin melemah. Ibu bangkit sambil menggendong Aruna, lalu berlari ke luar rumah. Di bawah hujan deras. Dengan kaki tanpa alas, baju basah kuyup.

“TOLONG!!! TOLONG ANAK SAYA!!!”

Jalanan depan rumah sepi. Sepi sekali. Hujan makin deras. Air mengalir di selokan, tapi tak ada satu mobil pun melintas. Tetangga sebagian besar pergi bekerja. Yang keluar rumah hanya dua atau tiga orang.

Seorang ibu tetangga menjerit panik, “Astaghfirullah! Aruna kenapa, Bu?!”

Yang lain buru-buru mengeluarkan ponsel. “Hubungi ambulans!” seseorang berteriak.

“Pangil taksi online! Cepat!” teriak yang lain.

Lihat selengkapnya