Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #13

Saksi Pedih

“Dina?”

Aku tersentak. Suara Jaksa terdengar tenang, namun menyiratkan tekanan yang sulit kugambarkan. Sekilas sorot matanya tampak melunak. Mungkin ia sadar bahwa aku masih terlalu muda untuk berada di tempat ini, duduk di ruang sidang dengan semua mata tertuju padaku, memikul beban yang bahkan orang dewasa pun akan kesulitan menjalaninya.

Tanganku bergetar di atas pangkuan. Aku mengangkat wajah perlahan. Ruangan ini terasa dingin, kaku, seperti membekukan seluruh tubuhku. Aku menatap wajah Tante Rani dan Paman Satya yang duduk dengan mata cemas. Tapi tatapan mereka tidak lebih menusuk daripada satu pandangan itu—dari bangku terdakwa.

Ayah. Ia duduk menunduk. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sejak sidang dimulai. Bahunya tampak kaku, namun aku tahu betul bahasa tubuhnya. Aku mengenal tubuh itu—sosok yang dulu menggendongku di bahunya saat aku takut gelap, yang dulu mendongeng sebelum tidur. Kini ia menunduk dalam diam, dan dari gerakan halus pada bahunya, aku tahu ia sedang menahan tangis.

Jaksa menatapku lagi. “Dina, saya ulangi pertanyaannya. Apakah benar ibu Anda mengalami gangguan jiwa sebelum kejadian ini?”

Aku menarik napas panjang. Perlahan. “Iya,” jawabku. Suaraku nyaris tak terdengar. “Sejak adik saya, Aruna, meninggal dua tahun lalu ... Ibu mulai berbeda. Ia tidak lagi seperti dulu.”

“Bisa dijelaskan lebih lanjut?”

Aku mengangguk pelan. Aku tahu aku tidak boleh bicara sembarangan di sini. Tapi aku juga tahu, jika ingin keadilan benar-benar hadir, maka kebenaran harus dikatakan. Bukan demi membela siapa pun. Tapi demi Ibu. Dan juga aku sendiri.

“Ibu saya mengurung diri. Ia sering menangis sendiri. Kadang tertawa sendiri. Ia suka menyebut nama Aruna berulang kali. Bahkan memeluk bantal kecil adik saya, menyanyikan lagu nina bobo seolah-olah Aruna masih hidup.”

“Apakah ibu Anda pernah dirawat?”

“Ya. Kami rutin membawanya ke poli jiwa. Dokter di sana bilang kalau Ibu depresi. Ibu harus rutin minum obat. Tapi ... sering kali Ibu menolak. Kadang disembunyikan, kadang dimuntahkan diam-diam.”

Jaksa mencatat. Suasana ruang sidang hening, hanya suara ketikan laptop dan detak jam di dinding yang terdengar.

Lihat selengkapnya