Sudah dua minggu berlalu sejak hari itu—hari saat aku bersaksi di persidangan. Sore harinya, setelah mengantar Rina, Fira, dan Mila pulang ke rumah masing-masing, dan membereskan beberapa pakaian di kamarku, Paman Satya mengajakku tinggal di rumahnya.
“Untuk sementara waktu saja,” katanya saat itu, “sampai semuanya tenang. Sampai kamu tenang.” Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan. Mungkin karena aku lelah. Atau karena aku tahu, rumahku tidak akan pernah sama lagi.
Rumah Paman besar, rapi, dan tenang. Tapi keheningannya terasa berbeda—bukan sepi yang menyakitkan seperti di rumahku, melainkan sepi yang menenangkan. Anehnya, justru sepi yang semacam itu yang membuatku sulit tidur.
Setiap malam aku terjaga hingga larut. Suara pintu yang berderit pelan, langkah kaki dari lantai atas, angin yang menyusup dari jendela kamar—semuanya membuatku gelisah. Tak jarang aku terlonjak, mengira suara itu berasal dari rumahku, dari malam-malam kelam yang tak ingin kuingat. Tapi justru karena tak ingin mengingat, semuanya jadi semakin jelas.
Bayangan Ibu saat memeluk Aruna yang sudah tak bernyawa, wajah Ayah yang tertunduk di kursi pesakitan, dan suara jeritan histeris yang dulu tak pernah bisa kudefinisikan ... kini menjadi nyanyian sunyi yang terus berputar dalam kepala.
Aku menulis semuanya di jurnal kecil pemberian Tante Rani. Di sanalah aku menyimpan suara-suara dalam kepalaku. Aku tulis setiap rasa takut, rasa bersalah, dan rasa rindu yang tidak tahu harus diarahkan ke siapa.
Rumah Paman Satya begitu nyaman secara fisik, tapi hatiku selalu tertinggal di rumah kecil kami yang sunyi. Rumah tempat semuanya bermula, dan tempat semuanya berubah.
Davin, anak laki-laki Paman Satya, baru naik ke kelas dua belas. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu sopan. Kalau sarapan, dia hanya menyapa singkat lalu sibuk dengan tugas sekolah atau gadget-nya. Kami jarang berbicara, tapi aku bersyukur dia tidak memperlakukanku aneh-aneh. Kehadirannya netral. Dan kadang, netral adalah bentuk empati terbaik.
Suatu sore yang hangat, saat aku sedang menyirami tanaman di halaman belakang, Paman Satya duduk di kursi rotan dekat pintu kaca. Ia membawa dua gelas teh dan memanggilku pelan. Aku menoleh dan menghampiri.
“Dina, kamu betah tinggal di sini?” Aku diam sebentar sebelum mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mengizinkan aku tinggal di sini.”
Ia tersenyum, tapi ada sesuatu di balik senyumnya yang terasa berat.
“Kami sudah bicarakan ini, Dina. Aku dan Tante Rani ingin kamu tetap tinggal di sini. Pindah saja sekolah ke SMA di kota ini. Kami bisa bantu semua urusannya. Di sini kamu bisa mulai dari awal.”