Sudah dua bulan sejak aku kembali ke rumah kecil kami. Rumah yang dulunya hangat kini hanya menyimpan bayang-bayang. Setiap sudutnya mengenang sesuatu yang hilang, tapi justru itu yang membuatku bertahan. Aku bangun lebih awal, membuka jendela, menyapu lantai, dan memasak seadanya. Kupelihara rumah ini agar tidak membeku.
Setiap pagi aku membuka jendela selebar mungkin. Bukan hanya untuk cahaya matahari, tapi juga agar udara baru mengusir pengap yang tertinggal dari masa lalu. Aku menyapu lantai, memasak seadanya, menyiram sisa tanaman Ibu yang masih bertahan di depan teras. Aku ingin rumah ini tetap hidup, meski penghuninya telah banyak yang pergi.
Satu bulan setelah aku kembali, Paman Satya datang membawa amplop besar dari pengadilan. Isinya: salinan putusan terakhir untuk Ayah. Satu kalimat yang terpampang jelas di atas kertasnya membuat tenggorokanku tercekat.
“Terdakwa dinyatakan bersalah atas tindak pidana pembunuhan sesuai Pasal 338 KUHP.”
Tanganku sempat gemetar saat membaca bagian itu. Tidak ada yang mengejutkan sebenarnya, karena sejak awal Ayah tidak membela diri. Tapi membaca keputusan hitam di atas putih itu tetap menyesakkan. Aku tidak menangis. Hanya menyimpan surat itu di laci meja belajar, di bawah jurnal tempat aku menuliskan semuanya.
Malamnya, aku duduk lama di ruang tengah. Foto keluarga kami terpajang di dinding yang mulai pudar warnanya. Di bawah cahaya lampu redup, aku menyalakan lilin kecil. “Aku tetap anakmu, Yah,” bisikku, “dan aku tetap menyayangi Ibu, walaupun semuanya tak bisa kembali.”
***
Awal masuk SMA di bulan Juli 2018, aku memilih sekolah negeri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Aku pergi dengan sepeda tua peninggalan Ayah. Sekolah baru berarti orang-orang baru. Tapi aku bersyukur, Fira dan Mila juga memilih SMA yang sama. Sedangkan Rina—sahabat kami yang tak kalah berarti—memutuskan melanjutkan sekolah di kota lain sambil mondok. Entah takdir atau keberuntungan, tapi kehadiran Fira dan Mila membuatku tidak merasa sepenuhnya asing.
Meski begitu, aku tetap menjadi pribadi yang tertutup. Saat teman-teman sekelasku saling bertukar nomor, tertawa, dan merancang liburan, aku lebih memilih duduk diam di pojok ruang kelas. Aku masih takut menjalin hubungan baru. Masih takut kehilangan. Karena aku tahu rasanya—saat dunia yang kau bangun bersama seseorang, tiba-tiba runtuh.
Fira dan Mila mengerti. Mereka tidak menuntutku untuk menjadi ceria seperti mereka. Tapi mereka tetap menggandengku dalam setiap langkah, mengajakku ke kantin, ke perpustakaan, bahkan ikut ekstrakurikuler jurnalistik bersama. Mungkin karena itu, pelan-pelan aku mulai terbuka. Belajar tersenyum. Belajar menyapa lebih dulu. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatku merasa masih hidup.
Masuk semester dua, aku mulai bergabung dengan ekstrakurikuler jurnalistik. Awalnya aku hanya ikut duduk, mendengarkan. Lama-lama aku diminta menulis. Aku menulis puisi. Cerita pendek. Artikel ringan tentang sudut kota. Tulisan itu dipasang di mading sekolah, tapi tanpa nama. Aku tidak ingin dikenal. Aku hanya ingin menulis.
Pandemi datang seperti badai di hari cerah. Awalnya kami mengira itu hanya berita dari negeri jauh. Virus yang katanya menyerang paru-paru dan menyebar cepat. Tapi ketika sekolah kami ditutup dan pembelajaran dipindah ke daring pada pertengahan Maret 2020, aku tahu ini bukan kabar biasa.