Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #16

Langkah-Langkah Baru

Mei 2021. Pandemi masih belum reda, meskipun berita tentang vaksinasi sudah mulai terdengar. Sekolah belum dibuka. Pembelajaran masih berlangsung daring. Tapi entah bagaimana, suasananya tidak lagi segelisah setahun lalu. Mungkin karena kami mulai terbiasa, atau mungkin karena kami sudah terlalu letih untuk terus takut.

Pagi-pagi, aku sudah duduk di depan laptop. Hari ini ada simulasi ujian akhir. Suara guru Matematika terdengar dari layar, menjelaskan sistem pengerjaan dan durasi waktu. Aku menyimak sambil mencatat, tapi pikiranku sesekali melayang—bukan karena bosan, tapi karena hatiku mulai tertarik ke arah lain: masa depan.

Fira dan Mila juga mulai bicara soal kuliah. Kami bertiga sering membuat panggilan grup untuk diskusi ringan. Suasana sudah jauh berbeda dari setahun lalu, ketika Fira masih harus menyisihkan waktu untuk membantu ibunya jualan online, atau Mila menangis diam-diam karena kehilangan nenek dan menjaga ibunya yang terinfeksi COVID. Sekarang, kami mulai bisa tertawa lagi, meski tak selepas dulu.

“Aku pengin ambil DKV, deh,” kata Fira suatu sore.

“Masuk lewat jalur apa?” tanyaku sambil memutar pensil.

“SNMPTN udah nggak bisa. Nilai raporku nggak kuat. Jadi SBM atau mandiri, deh. Tapi aku udah daftar kursus gambar online. Doain ya.”

Mila tersenyum di layar, “Aku masih bingung. Antara pendidikan anak atau komunikasi. Tapi katanya sekarang saingannya banyak banget.”

Aku hanya diam sebentar, lalu menatap mereka.

“Aku pengin ambil psikologi.”

Fira dan Mila berhenti berbicara. Mila mencondongkan tubuhnya ke layar, seolah ingin memastikan apa yang baru saja kudengar.

“Psikologi? Kayak ... kayak Bu Keyla di berita itu ya? Yang bantu penyintas trauma?”

Aku mengangguk, “Aku pengin ngerti gimana cara luka bekerja dalam pikiran. Pengin tahu kenapa orang bisa berubah drastis, bisa kehilangan arah, bisa jatuh dan bangkit. Aku pengin belajar supaya bisa bantu orang yang terluka, kayak aku dulu.”

Fira tersenyum pelan, “Itu cocok banget buat kamu, Din. Serius.”

Mila mengangguk, “Kamu yang paling tahu rasanya hancur dan gimana caranya bangkit. Kamu pasti bisa bantu banyak orang. Kalau kamu yang jadi psikolog, aku yakin orang-orang akan ngerasa aman.”

Aku tidak menjawab langsung. Hanya tersenyum. Tapi di dalam hati, aku merasa tenang. Aku tahu, langkah ini bukan pelarian. Ini adalah bagian dari penyembuhan—untuk diriku sendiri, dan mungkin nanti ... untuk orang lain juga.

Lihat selengkapnya