Kelulusan datang seperti embusan angin senja: lembut, tak terlalu meriah, tapi menyisakan perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Kami tidak naik panggung, tidak berfoto dengan ijazah, tidak saling coret baju atau berpelukan seperti yang dulu sering kami impikan. Tapi kami lulus, dan itu sudah cukup. Di tengah dunia yang masih belum baik-baik saja, kami menyelesaikan masa putih abu-abu kami dengan cara yang paling mungkin: bertahan.
Setelah pengumuman kelulusan, hari-hari kami terisi oleh berkas, pendaftaran, dan ujian masuk universitas. Aku memilih jurusan psikologi. Entah sejak kapan aku benar-benar memutuskan itu. Mungkin sejak aku mulai paham bahwa luka tidak selalu tampak. Mungkin sejak aku sendiri terus hidup sambil menanggung luka itu.
Fira memilih DKV, katanya ingin jadi desainer profesional. Mila mengambil pendidikan, ingin jadi guru SD seperti ibunya. Kami saling menyemangati, berbagi soal-soal try out dan tips pendaftaran daring. Meski tidak lagi bertemu setiap hari, grup kecil kami tetap hidup. Aku bersyukur karena kami bertiga berhasil lulus ke universitas impian masing-masing, meski tersebar di kota berbeda.
Aku diterima di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Paman Satya mendukung penuh. Ia bahkan membantu mengurus semua berkas, mencari info beasiswa, dan mengantarku saat hari pertama masuk asrama. “Kamu nggak sendiri,” katanya waktu itu, “ibu dan ayahmu pasti bangga.”
Asrama kampus menjadi dunia baruku. Aku tinggal sekamar dengan tiga orang teman: Laila dari Semarang, Dewi dari Wonosobo, dan Vivi dari Solo. Mereka ramah dan terbuka. Tapi seperti biasa, aku menjaga jarak. Ada batas yang masih belum bisa kuhapus, semacam dinding tak kasatmata yang kubangun sejak lama. Aku menyapa, ikut tertawa, kadang ikut berbagi cerita ringan. Tapi aku jarang benar-benar hadir di tengah percakapan mereka.
Mungkin karena aku merasa berbeda. Dunia mereka terasa terlalu utuh, terlalu “normal”. Sementara aku ... hidup dalam sisa-sisa reruntuhan.
Satu sore yang mengejutkan, aku bertemu Rina. Kami sama-sama sedang antre di koperasi kampus untuk membeli buku diktat. Dia menoleh padaku lebih dulu.
“Dina?”
Aku terdiam beberapa detik. Rina, sahabatku yang dulu mondok dan tidak ikut kami di SMA. Kini berdiri di depanku, mengenakan almamater kampus yang sama, membawa tumpukan buku di tangan.
“Rina? Ya ampun, kamu di sini juga?”
Kami berpelukan sebentar. Rina kuliah di jurusan bimbingan dan konseling di fakultas yang sama denganku, bahkan asrama kami berdekatan. Sejak hari itu, kami mulai sering bertemu lagi. Kadang belajar bareng, kadang hanya duduk di taman sambil minum teh kotak seperti dulu.
“Kamu banyak berubah, Din,” katanya suatu malam, “tapi aku aku tahu, kamu selalu berhasil melewati masa-masa yang berat.”
Aku hanya mengangguk. Rina tak memaksa. Rina tidak pernah bertanya banyak. Tapi ia selalu hadir. Kadang kami makan siang bersama, kadang bertukar pesan tentang materi kuliah, kadang hanya saling membagikan foto langit sore.
Kuliah berjalan dengan cepat. Semester satu dan dua dipenuhi mata kuliah dasar: pengantar psikologi, psikologi perkembangan, metode penelitian, dan statistik. Aku mencatat rapi, membaca lebih dari yang diminta dosen, dan aktif dalam kelompok kecil. Aku suka cara ilmu ini menjelaskan manusia. Tapi tetap, aku belum sepenuhnya pulih. Beberapa laki-laki mulai mendekat, sekadar basa-basi atau menawarkan bantuan saat tugas kelompok. Ada Anton dari kelas tetangga yang rajin menyapa, dan Dika dari mata kuliah psikologi sosial yang kerap melontarkan candaan receh.
Tapi setiap kali percakapan kami mulai menghangat, aku menarik diri. Ada ruang di dalam diriku yang tetap dingin. Dan aku tak tahu apakah aku ingin menghangatkannya kembali, atau membiarkannya tetap beku.
Waktu berjalan. Aku masuk semester lima. Hari itu, kami duduk di kelas psikologi abnormal. Dosen kami, Bu Inayah, membuka pertemuan dengan suara lembut.
“Hari ini kita masuk ke topik trauma dan dissociative disorders. Kita akan bahas secara khusus: Amnesia Disosiatif.”