Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #18

Dalam Perjalanan Pulang

Libur semester lima datang bersamaan dengan hujan yang nyaris tak berhenti sejak awal Desember. Jalanan basah, langit kelabu, dan udara dingin menyelimuti asrama kampus yang mulai lengang. Sebagian besar mahasiswa pulang, sebagian lagi memilih tetap tinggal karena alasan praktis atau karena hati yang belum siap kembali.

Biasanya aku memilih tetap tinggal di asrama, tapi kali ini aku pulang. Dengan koper kecil, jaket tipis, dan kepala yang mulai penuh oleh teori-teori psikologi yang belum tentu bisa menyembuhkan diriku sendiri. Tidak ada yang menjemput. Paman Satya bilang ia sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi aku pulang naik kereta, lalu melanjutkan perjalanan dari stasiun ke rumah dengan taksi online.

​Aku duduk diam di jok belakang taksi online. Driver-nya, seorang bapak paruh baya, sesekali melirikku lewat kaca spion tengah. Di tengah perjalanan, di sela heningnya kabin mobil yang hanya riuh oleh suara AC, suara beratnya terdengar, “Kamu ... Dina, ya? Anaknya Pak Nugroho?”

Aku menegang. Hampir lupa bagaimana rasanya namaku disandingkan dengan nama Ayah.

“Iya, Pak ... maaf, Bapak siapa, ya?”

Ia tersenyum kecil, “Aku Deni. Teman lama ayahmu. Dulu sering mangkal bareng. Kita pernah sama-sama nganter barang pakai motor, terus kerja jadi ojol waktu ojol itu baru rame.”

Aku diam. Lidahku kelu. Nama Ayah seperti pisau yang sudah lama kusimpan, kini disentuh orang dan luka itu menganga lagi.

Pak Deni pelan-pelan mulai bicara. Seolah tahu aku tak siap langsung membalas.

“Ayahmu orangnya pendiam, tapi kalo sudah cerita, bisa panjang. Waktu itu dia sering mampir ke warung ujung gang. Bukan buat beli nasi, cuma duduk, ngeteh, ngobrol. Katanya, itu satu-satunya waktu dia bisa lepas dari peran ‘ayah yang kuat’.”

Aku menunduk. Tanganku gemetar menggenggam ujung jaket.

“Kami sering ngobrol malam-malam. Dulu, waktu anaknya, kalau tidak salah ingat namanya Aruna, meninggal, ibumu mulai sakit, dan dia di-PHK dari kantornya. Dia nggak pernah ngeluh di depan kamu. Tapi di warung kopi, dia cerita. Tentang betapa beratnya menahan diri. Tentang lelahnya jadi satu-satunya orang dewasa yang harus kuat di rumah itu.”

Aku tidak merespon. Hanya menunduk, menyandarkan kening pada kaca jendela yang terbuka sedikit, membiarkan angin sore menyapu wajahku. Jalanan kota kecilku tak banyak berubah. Tapi kata-kata pria ini seperti menarikku ke lorong waktu—ke hari-hari yang tak pernah benar-benar selesai kuhadapi.

Lihat selengkapnya