Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #19

Pengakuan Terakhir

Mobil Paman melaju dengan tenang membelah jalanan yang lengang. Aku duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela tanpa suara. Kupikir kami akan langsung menuju ke lapas. Tapi entah kenapa, aku merasa arah yang kami tempuh tidak menuju ke sana. Setelah beberapa menit, aku melirik Paman.

“Paman,” suaraku ragu, “kita nggak ke lapas, ya?”

Paman tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Baru ketika kami memasuki halaman rumah sakit umum, ia bicara, suaranya pelan seperti seseorang yang memilih kata-kata dengan hati-hati.

“Kenapa ke sini? Siapa yang sakit?”

Paman mematikan mesin mobil, menatap lurus ke depan sebelum akhirnya membuka suara, pelan tapi jelas, “Ayahmu.”

Dunia seolah berhenti bergerak sesaat. Aku menahan napas.

“Kanker pankreas stadium akhir. Dokter baru mendiagnosis dua bulan lalu setelah gejalanya makin parah. Selama ini, ayahmu berusaha menyembunyikan kondisinya. Katanya, jangan sampai mengganggu kuliahmu.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku serasa kering. Paman melanjutkan, “Minggu lalu kondisinya drop. Pihak lapas merujuk ayahmu untuk dirawat di rumah sakit. Tapi tetap dijaga polisi. Aku pikir ... kamu berhak tahu.”

Tanpa banyak bicara, aku mengikuti langkah Paman masuk ke rumah sakit. Tanganku gemetar. Nafasku tak beraturan.

Kami naik ke lantai dua. Suasana koridor sunyi. Di depan salah satu pintu, dua orang polisi berjaga. Mereka mengangguk saat melihat Paman, lalu membuka pintu.

Dan di sana ... aku melihat Ayah. Kurus. Wajahnya tirus. Rambutnya memutih. Selang infus tertancap di punggung tangannya. Matanya setengah tertutup, namun saat aku melangkah masuk, pandangan itu terbuka pelan, menatapku.

Aku tidak bisa menahan air mata.

“Ayah ...”

Ayah mencoba tersenyum. “Dina ...”

Suara itu serak, nyaris tak terdengar. Aku mendekat, duduk di kursi sebelah tempat tidurnya. Tanganku menggenggam jari-jarinya yang dingin.

Lihat selengkapnya