Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #20

Jejak Mereka

Aku duduk bersila di lantai kamar Ibu. Lampu meja menyala temaram. Di depanku, sebuah boneka beruang krem tergeletak. Boneka itu sudah kusam, bulunya mulai kusut, dan sedikit bau apek karena bertahun-tahun terabaikan di lemari kayu. Tapi hari ini, benda itu tak lagi sekadar mainan. Di dalamnya, mungkin tersembunyi satu-satunya kebenaran yang Ayah pendam dari dunia.

“Aku ingat boneka ini,” bisikku, “Ibu sering menimangnya sambil menyebut nama Aruna.”

Paman mengangguk. Dengan hati-hati, aku membalik boneka itu. Tanganku bergetar saat membuka resleting kecil di bagian punggung boneka. Sebuah kotak hitam, baterai, dan kabel charger tertanam di dalamnya. Di sisi belakang ada tombol on-off. Salah satu bola matanya adalah kamuflase kamera. Boneka mekanik. Ini benar bukan boneka biasa. Di dalam kotak itu, di antara kabel dan sirkuit. terdapat sekeping SD card seperti kata Ayah. Aku melepaskannya perlahan, lalu menyerahkannya pada Paman Satya yang duduk di sebelahku sambil menahan napas.

"Kita putar sekarang?" tanya Paman lirih.

Aku mengangguk. "Aku harus tahu, Paman. Aku harus lihat semuanya."

Paman memasukkan SD card ke laptop tua yang selama ini kugunakan menulis jurnal kuliah. Butuh beberapa menit sampai folder berisi file muncul. Ada banyak rekaman lama, tapi mataku langsung tertuju pada satu file yang bertanggal sama dengan malam tragedi itu.

Tangan Paman bergerak lebih dulu menekan tombol putar. Rekaman itu menggambarkan kejadian dini hari itu, persis seperti yang Ayah ceritakan di rumah sakit pagi tadi—tentang Ibu yang sedang rapuh, tentang pergumulan dan perebutan, dan peristiwa yang begitu cepat hingga berubah jadi tragedi. Tak ada yang mengejutkan dari rekaman itu. Tapi justru itulah yang membuatnya berarti: ia memperkuat pengakuan Ayah dan memberi bentuk bagi luka yang selama ini hanya berupa tanda tanya.

Tangisku meledak tanpa bisa ditahan. Paman diam, hanya sesekali mengusap matanya.

“Paman ...,” suaraku tercekat. “Ayah nggak bersalah. Dia cuma ... lelah.”

Paman menarik napas dalam. “Dan dia diam, menanggung semua ... sendirian.”

“Kita harus bersihkan namanya, Paman. Kita harus.” Suaraku bergetar.

Paman menatapku, lama. Kemudian ia mengangguk mantap. “Aku setuju. Kamu dukung dia agar tidak terus menyalahkan diri. Kita akan urus semuanya. Kita cari pengacara. Kita ajukan peninjauan kembali. Bukti ini ... cukup kuat.”

Hari-hari setelah itu dipenuhi langkah demi langkah yang perlahan tapi pasti. Kami menghubungi pengacara, membawa bukti video, mengurus dokumen, menyusun permohonan peninjauan kembali. Ayah belum bisa dihadirkan langsung karena kondisinya yang masih lemah, tapi harapanku agar Ayah terbebas ... selalu terasa di setiap langkah yang kuayun.

Hampir setiap hari, aku dan Paman duduk berdiskusi. Kadang ditemani kopi, kadang hanya dengan keheningan. Tapi tak ada lagi ragu. Tak ada lagi luka yang dibiarkan tak terurus.

Namun di tengah usaha kami, tepat beberapa hari sebelum persidangan ulang digelar, kabar itu datang—begitu pelan, tapi mematahkan segalanya.

Paman menerima telepon dari rumah sakit. Wajahnya seketika memucat. Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit gemetar. Aku tahu. Bahkan sebelum ia berkata.

“Dina ...,” suaranya berat, seakan berusaha menyangkal apa yang harus ia ucapkan. “Ayahmu … sudah berpulang. Tadi pagi. Sekitar pukul lima.”

Aku tak berkata apa-apa. Bibirku terbuka, tapi tak ada suara. Dunia di sekitarku seperti memudar—semua warna, semua bunyi, semua rasa.

Lihat selengkapnya