Suara yang Tak Pernah Didengar

Nadzir Arafah
Chapter #21

Lembaran Pertama

Tiga bulan telah berlalu semenjak keputusan peninjauan kembali dibacakan. Sunyi di rumahku kini tak lagi begitu mencekam. Ruang kosong di setiap sisi rumah bak meminta kembali diisi. Bercak-bercak pahit yang dulu melapisi dinding-dinding kayu rumah ini perlahan terkikis oleh udara baru yang kubiarkan masuk setiap pagi.

Pagi ini, sinar matahari bergerak menembus jendela kamar Ibu. Menjangkau segala sudut kamar, menyingkap segala benda yang ditaruh terbuka. Termasuk boneka itu. Boneka beruang krem berisikan SD card di atas rak buku, di sebelah deretan jurnal perkuliahanku. Ia tak lagi berdebu. Ia tak lagi disembunyikan dalam kegelapan lemari kayu. Benda itu kini menjadi simbol kemenangan yang berisikan kesedihan, sebuah pengingat bahwa kebenaran pada akhirnya menemukan jalannya, meskipun harus membayar harga yang begitu mahal.

Aku duduk di meja belajar kecilku, membuka sebuah laptop. Layar pendar putihnya menyinari wajahku di tengah remang kamar. Di dokumen kosong yang baru kubuat, jemariku perlahan menari di atas papan ketik:

"Untuk Ayah, Ibu, dan Aruna. Ini adalah cerita kita—cerita tentang bagaimana patah hati paling dalam tidak sanggup mematikan cinta."

Memulai tulisan ini tidaklah mudah. Setiap kata yang kutulis rasanya seperti menggores kembali bekas luka yang baru saja mengering. Namun, seperti yang pernah kujanjikan di pusara mereka, aku tidak boleh membiarkan kisah ini menguap begitu saja. Dunia harus tahu. Bukan hanya tentang keputusan hakim yang membebaskan nama Ayah, tetapi tentang bagaimana seorang laki-laki yang hancur memilih diam dan menanggung stigma pembunuh demi melindungi sisa-sisa ingatan tentang keluarganya.

Pintu kamar terbuka pelan. Paman Satya yang beberapa hari ini menginap di rumah ini, masuk membawa dua cangkir teh hangat. Wajah Paman kini tampak lebih tenang, garis-garis ketegangan di dahinya yang selama bertahun-tahun tampak permanen mulai mengendur. Meskipun begitu, ada kerinduan yang mendalam di matanya setiap kali ia menatap ke sudut-sudut rumah ini.

"Bagaimana tulisannmu, Dina?" tanya Paman lembut sambil meletakkan cangkir di tepi meja.

"Baru mulai, Paman," jawabku seraya tersenyum tipis, "rasanya aneh. Dulu aku menulis jurnal hanya untuk mengurai depresi dan rasa bersalahku sendiri. Sekarang, aku menulis untuk merajut kembali takdir Ayah."

Paman duduk di tepi ranjang, menatap boneka beruang di atas rak. "Ayahmu selalu tahu kamu punya bakat menulis dari ibumu. Dulu sebelum tragedi itu terjadi, ayahmu pernah bercita-cita ingin membelikan kamu laptop. Dia bilang, 'Dina itu kalau marah atau sedih selalu diam, tapi jarinya terus menulis di buku diary-nya. Dia butuh wadah untuk suaranya."

Lihat selengkapnya