Proses penulisan buku itu memakan waktu hampir delapan bulan. Lelah, gundah, dan harapan berkecamuk di setiap hurufnya. Meski tak kupungkiri, setiap bab yang selesai seperti mengurai satu simpul beban berat dari pundakku.
Di tengah proses itu, aku juga harus menyelesaikan kuliah yang sempat tertunda. Teman-temanku di kampus, Dewi dan Vivi, selalu setia mendampingi. Mereka tidak pernah bertanya berlebihan tentang masa laluku. Tetapi keberadaan mereka—siap mendengarkan kapan pun aku butuh bercerita—adalah jangkar yang menjagaku tetap berpijak di bumi.
Suatu sore di kampus, Dewi menghampiriku di perpustakaan dengan wajah berseri-seri. "Dina! Lihat ini!" katanya seraya menyodorkan ponselnya.
Di layar ponsel itu tertera sebuah artikel berita daring nasional. Judulnya cukup mencolok: "Pembersihan Nama Baik Alm. Pak Nugroho: Pembelajaran Bagi Sistem Peradilan dan Kesadaran Kesehatan Mental Keluarga."
Artikel itu mengulas tuntas kasus Ayah berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di sidang peninjauan kembali. Penulis artikel—seorang jurnalis senior—memuji keberanian keluarga kami yang tidak menyerah mencari kebenaran, sekaligus mengkritik bagaimana stigma masyarakat sering kali mendahului hukum.
"Kamu lihat, Din?" ulas Dewi dengan mata berkaca-kaca, "Orang-orang mulai mengerti. Nama ayahmu bukan cuma bersih di mata hukum, tapi juga di mata publik."
Aku membaca artikel itu berulang kali. Ada rasa haru yang membuncah di dada. Dulu, setiap kali nama Ayah muncul di koran atau televisi, kata yang menyertainya adalah "pembunuh tega" atau "suami kejam". Kini narasi itu telah berubah. Dunia akhirnya melihat Ayah sebagai seorang suami yang terluka dan seorang ayah yang berkorban hingga napas terakhirnya.
"Terima kasih, Wi," kataku pelan, mengembalikan ponselnya, “tanpa kalian yang selalu menyemangatiku belajar dulu, aku mungkin tidak akan sampai di titik ini."